Trending News

Perjalanan Diplomat Muda Indonesia Oleh: Arya Daru Pangayunan (Bag. 7)

 

Posting Ke Perwakilan RI di Luar Negeri

 

Pengusulan Posting

            Bagi seorang Diplomat Pertama yang belum pernah ditempatkan di Perwakilan RI di luar negeri, tentu penempatan di Perwakilan RI di luar negeri atau posting menjadi sebuah hal yang dinanti-nanti.

Rata-rata, seorang Diplomat Pertama harus menunggu antara 3-5 tahun di dalam negeri sebelum mendapatkan tempat penugasan di Perwakilan RI di luar negeri.

Untuk dapat ditempatkan di luar negeri, terdapat dua jalur, yaitu pengajuan secara normal dan yang dilakukan melalui bidding secara terbuka. Biasanya bidding secara terbuka ditawarkan untuk pos-pos rawan dan berbahaya seperti Kabul, Baghdad, Caracas, Port Moresby, dan sebagainya. Pos-pos ini banyak diperebutkan orang-orang yang ingin cepat berangkat posting, karena jika mengikuti pengajuan secara normal, biasanya harus menunggu lebih lama.

Pada pertengahan tahun 2017, angkatan saya sudah memenuhi kriteria bidding. Karena ingin cepat posting, saya memilih salah satu opsi yang ditawarkan yaitu Addis Ababa, Ethiopia dengan crosspost ke Frankfurt, Jerman dan mengajukannya ke Sesditjen IDP. Namun saya belum beruntung karena bidding pos tersebut dimenangkan oleh senior saya.

Kenapa sih ingin cepat posting? Selain alasan utama, yaitu untuk merasakan hidup di luar negeri dengan hak-hak diplomatik yang melekat, tidak dapat dipungkiri bahwa alasan berikutnya adalah soal pendapatan. Ketika posting, seorang diplomat akan memperoleh yang namanya Tunjangan Penghidupan Luar Negeri (TPLN) yang jumlahnya cukup besar sehingga jumlah pendapatan yang diperoleh akan (sangat) berbeda dibandingkan ketika sedang bertugas di Jakarta.

Tidak disangka, pada akhir tahun 2017 saya dipanggil oleh Sesditjen IDP dan diberitahukan bahwa saya telah mendapatkan pos di luar negeri untuk keberangkatan bulan Juli/Agustus 2018 ke Dili, Timor-Leste. Karena Dili termasuk pos rawan, penugasan di Dili hanya selama 2 tahun dan kemudian dapat melakukan crosspost ke pos lain. Kebetulan saya mendapatkan crosspost ke Buenos Aires, Argentina.

 

Orientasi dan Pemantapan Substansi

            Sebelum bertugas di luar negeri, seorang diplomat, baik bagi yang baru akan pertama kali ditempatkan, maupun bagi yang akan penempatan kedua hingga kelima, harus mengikuti orientasi dan pemantapan substansi.

Selama beberapa minggu, saya mendapatkan pembekalan, mulai dari pemberian materi substansi oleh unit regional terkait, hingga melakukan kunjungan ke berbagai instansi, seperti Ditjen Imigrasi di Kementerian Hukum dan HAM, Sekretariat ASEAN, Pusat Misi Pemeiliharaan Perdamaian (PMPP) Sentul, hingga ke Medan untuk belajar mengenai potensi pariwisata dan juga kelapa sawit di Sumatera Utara.

Bagi saya, yang cukup berat adalah pembekalan di Satinduk BAIS TNI di Cilendek dimana para diplomat yang akan diberangkatkan ke pos rawan dan berbahaya diberi pembekalan mengenai dasar-dasar intelijen. Selama 2 minggu pembekalan, kami tinggal di asrama dan diperlakukan layaknya seorang anggota TNI – apel tiap pagi dan malam, dan kemana-mana kami harus berbaris dan berjalan secara serempak.

Karena materi yang diberikan cukup banyak dan harus diselesaikan dalam waktu yang singkat, jadwal pembekalan dipadatkan, yang membuat jam pelajaran dimulai pukul 7 pagi dan berakhir pukul 9 malam. Hal ini membuat fisik saya drop. Terlebih lagi setiap malam saya susah tidur karena kepanasan, karena kamar di asrama tidak memiliki AC. Di hari keempat menjalani pembekalan di Cilendek, saya demam tinggi. Untuk pertama kalinya seumur hidup saya diangkut menggunakan ambulan. Saya dibawa dari asrama ke Rumah Sakit Salak Bogor. Untung tidak harus dirawat inap dan hanya rawat jalan saja. Kata dokter hanya kelelahan dan perlu istirahat. Saya hanya melewatkan 1 hari kegiatan pembekalan. Setelah beristirahat di akhir pekan, saya bisa mengikuti kegiatan secara penuh pada minggu kedua.

Saya menilai pembekalan yang diberikan di Satinduk BAIS TNI sangat bermanfaat bagi para peserta, khususnya yang akan ditempatkan di negara rawan dan berbahaya, karena para peserta menjadi paham akan ilmu intelijen, dan juga menjadi lebih siap secara mental dan fisik untuk ditempatkan di negara rawan dan berbahaya.

Rupanya tidak hanya diplomat yang akan berangkat yang wajib mengikuti orientasi sebelum keberangkatan. Pasangan (suami/istri) para diplomat juga diwajibkan untuk mengikuti orientasi. Perlu dicatat bahwa suami/istri beserta anak-anak seorang diplomat juga memperoleh paspor diplomatik dan hak-hak diplomatik yang melekat.

Selama beberapa hari, Pita harus menitipkan anak-anak ke mertua, karena harus ke Jakarta selama beberapa hari untuk mengikuti orientasi bagi pasangan diplomat.

Orientasi dan pembekalan diberikan oleh Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) di Pusdiklat Kemlu. Materi yang diberikan meliputi tata cara berpakaian, kiat-kiat dalam mendukung pasangan selama bertugas di luar negeri, hingga apa-apa yang harus dilakukan sebagai anggota DWP di Perwakilan RI di luar negeri. Orientasi ini sangat membantu, khususnya bagi pasangan yang baru akan berangkat penempatan pertama, karena dapat sedikit memberikan gambaran mengenai apa yang akan dialami ketika mendampingi pasangan bertugas di Perwakilan RI di luar negeri.

 

Persiapan Keberangkatan

            Keberangkatan untuk penugasan ke Perwakilan RI di luar negeri merupakan sebuah hal yang ditunggu-tunggu bagi seorang diplomat. Namun proses keberangkatan rupanya tidak sesimpel yang dibayangkan. Cukup banyak proses administrasi yang harus diurus. Di luar itu, banyak “norma tidak tertulis” yang harus diikuti, antara lain membeli oleh-oleh untuk rekan-rekan di Perwakilan, mengatur acara perpisahan dengan teman-teman satu angkatan, dan perpisahan dengan rekan-rekan Direktorat yang akan ditinggalkan. Belum lagi acara perpisahan dengan keluarga. Hal-hal seperti itu tentu memakan waktu, tenaga, dan biaya sehingga kita harus pandai mengaturnya.

Bagi saya yang akan ditempatkan di Timor-Leste belanja pakaian juga menjadi keharusan, karena bayangan saya 2 tahun ke depan selama berada di Timor-Leste akan sulit untuk mencari tempat berbelanja pakaian.

Manajemen barang bawaan juga harus diperhatikan, jangan sampai bagasi kita overload. Sebenarnya semua pegawai yang akan dimutasi ke Perwakilan RI di luar negeri diberikan jatah kargo, namun karena dibayarkan secara lumpsum, banyak yang memilih untuk menyimpan uangnya dan berangkat tanpa kargo, termasuk saya.

Pada tanggal 1 Agustus 2018, saya berangkat ke Dili bersama istri, sementara anak-anak dititipkan dengan mertua. Lho, anak-anak tidak ikut? Jika ditempatkan di negara rawan dan berbahaya, pasangan dan anak-anak tidak diwajibkan ikut. Untuk keberangkatan awal, Pita ikut hanya beberapa hari saja, untuk berkenalan dengan Ibu-Ibu DWP di Perwakilan dan untuk mendapatkan bayangan kondisi kehidupan di Dili sebelum anak-anak menyusul.

Keputusan ini kami ambil karena Althea sudah masuk di bangku kelas 1 SD dan sudah terlanjur didaftarkan ke sekolahnya. Pita dan anak-anak berencana menyusul saya di Dili setelah Althea menyelesaikan tahun ajarannya.

Demikian perjalanan saya, dari pertama kali memperoleh cita-cita sebagai seorang diplomat, hingga hari keberangkatan posting pertama saya ke Dili, Timor-Leste sebagai seorang Diplomat Pertama.***

 

Arya Daru Pangayunan adalah Sekretaris Ketiga Fungsi Politik di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Dili (2018-2020); dan Sekretaris Ketiga Fungsi Ekonomi, Sosial, dan Budaya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Buenos Aires (2020-sekarang).

Perjalanan Diplomat Muda Indonesia Oleh: Arya Daru Pangayunan (Bag. 6)

Perjalanan Diplomat Muda Indonesia Oleh: Arya Daru Pangayunan (Bag. 5)

Perjalanan Diplomat Muda Indonesia Oleh: Arya Daru Pangayunan (Bag. 4)

Perjalanan Diplomat Muda Indonesia Oleh: Arya Daru Pangayunan (Bag. 3)

Perjalanan Diplomat Muda Indonesia Oleh: Arya Daru Pangayunan (Bag. 2)

Perjalanan Diplomat Muda Indonesia Oleh: Arya Daru Pangayunan (Bag. 1)

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Leave a Reply

Required fields are marked *

Related Posts

Gowork – Senayan City Lv. 15
Jl. Asia Afrika No. Lot. 19, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10270,
Indonesia

Email : redaksi@dutanusa.com

Informasi

Newsletter

© 2021 All rights reserved​

Made by DutaNusa Team