Trending News

Implementasi Cyber Leadership Perguruan Tinggi Di Tengah Pandemi Covid 19

Oleh : Taufan Teguh Akbari, Ph.D
Pengamat Kepemimpinan dan Kepemudaan
Wakil Rektor 3 IKB LSPR, Jakarta

 

 

Sebagai institusi yang melahirkan generasi masa depan, sudah seharusnya perguruan tinggi beradaptasi dengan perkembangan zaman. Baik itu kurikulum maupun cara belajar harus selalu diperbarui agar relevan dengan zaman. Akan tetapi, dalam riset KPMG pada tahun 2020 mendeklarasikan bahwa era keemasan perguruan tinggi sudah selesai. Ini menarik karena dari sudut pandang KPMG, alasan zaman keemasan perguruan tinggi selesai adalah permasalahan finansial. Biaya yang tinggi dan utang siswa yang meningkat menjadi beberapa alasannya. Namun, kritik lain yang menurut saya menyebabkan perguruan tinggi menurun kualitasnya diutarakan oleh Yuval Noah Harari dalam bukunya 21st Lesson for 21st Century mengatakan bahwa pendidikan masih berjalan tradisional, belum sepenuhnya berfokus pada penumbuhan kompetensi mahasiswa.

Fenomena ini menjadi tantangan bagi pemimpin di perguruan tinggi untuk tetap menjaga institusi pendidikan tinggi tetap relevan. Namun, sebelum para leaders dan pimpinan di perguruan tinggi punya kesempatan untuk merombak sistem secara keseluruhan, pandemi menyambut terlebih dahulu di tahun 2020. Kedatangan pandemi ini ‘memaksa’ perguruan tinggi untuk berinovasi, tidak bisa lagi menerapkan cara tradisional, dan merubah seluruh sistem pendidikan mereka secara simultan juga menyelesaikan masalahnya di saat yang bersamaan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Sederhananya, perguruan tinggi secara progresif harus mengintegrasikan teknologi digital ke dalam sistem pendidikan mereka.

 

Cyber Leadership di Era Pandemi

            Pandemi COVID-19 memberikan tantangan yang luar biasa bagi perguruan tinggi. Tahun 2021, hampir semua perguruan tinggi yang berjumlah 4.500 lebih dari ujung Barat hingga Timur Indonesia diminta serentak berbenah dan berubah dalam melaksanakan praktek kegiatan belajar mengajar. Belum lagi, terdapat 190 ribu lebih dosen yang turut merubah kebiasaan dalam mengajar dan berinteraksi dengan peserta didiknya, baik dari aspek teknis ataupun pedagoginya. Mereka harus berubah, secara spontan menerapkan proses pembelajaran digital dan bagaimana membangun kurikulum yang tetap relevan disituasi “extreme uncertainty” seperti saat ini. Terlebih, dengan tekanan untuk menciptakan generasi masa depan yang unggul, perguruan tinggi berada pada posisi yang cukup pelik. Oleh karena itu, peran pemimpin sangat dibutuhkan agar perguruan tinggi bisa keluar dari situasi yang tidak menyenangkan ini.

Pemimpin perguruan tinggi perlu merubah gaya kepemimpinannya ke cyber leadership. Di era teknologi saat ini, praktek cyber leadership menjadi sangat penting. Leaders harus engage dengan permasalahan ini, terlebih semua pekerjaan dan aktivitas dipindahkan ke ranah digital. Aaron Pritz dalam artikelnya di Forbes yang berjudul Cybersecurity is not Best Left to the Experts: Business Leaders Guide mengatakan bahwa ketika kita mengatakan masalah cyber dan teknologi ini lebih baik diserahkan kepada ahlinya, itu menjadi sinyal bahwa leaders tidak memiliki minat dalam hal ini. Dia menyebutkan, ada empat ciri-ciri dimana leaders tidak begitu peduli dengan masalah cyber: terlalu menyederhanakan isu sehingga membuat keputusan singkat, lalu membeli alat-alat terbaru dan membayar konsultan untuk memasangnya, membayar asuransi dan berharap tak menggunakannya, terakhir adalah mendelegasikan dan menyerahkan tugas-tugas teknologi kepada teknisi IT. Menurut Aaron, itu tidak akan menyelesaikan masalah cyber apapun.

Oleh karena itu, terlebih dalam konteks perubahan digital di masa pandemi, leaders harus cerdik dalam menyusun strategi, menemukan permasalahan, dan di atas itu semua, menanyakan hal-hal penting terkait gap informasi yang terjadi dalam institusi. Bagaimana mereka menanganinya membutuhkan strategi yang adaptif dan matang dalam perencanaan. Dengan begitu, leaders bisa memanfaatkan kesempatan dalam melakukan transformasi digital. Pemimpin perguruan tinggi sekarang harus menjadi seorang cyber leadership yang handal.

Berbicara soal kesempatan melakukan transformasi digital, studi dari Inside Higher Ed dan Hanover Research 2021 menemukan bahwa 82% persen perguruan tinggi setuju bahwa pandemi memberikan kesempatan untuk membuat perubahan baru terhadap institusinya. Selain itu, melihat keuntungan yang didapatkan, sebenarnya teknologi digital sangat membantu perguruan tinggi untuk mengakselerasi kualitas dan sistem pendidikan mereka. Riset dari Liesa-Orús, dkk (2020) yang meneliti bagaimana persepsi 345 Profesor terhadap alat-alat Iptek menemukan bahwa teknologi memiliki dampak positif dalam pembelajaran dan pengembangan.

Oleh karena itu, di masa pandemi ini, salah satu hal yang harus dilakukan adalah membuat grand design transformasi digital. Transformasi ini perlu karena pandemi membatasi ruang gerak untuk melakukan cara-cara tradisional. Namun, para cyber leaders di perguruan tinggi menemukan tantangan yang cukup pelik. Misalnya, menurut penuturan Rektor Universitas Kristen Petra, Prof. Djwantoro Hardjito, melakukan transformasi digital memiliki tantangannya tersendiri. Dia menjelaskan, ada dua tantangan yang dihadapinya ketika berusaha menerapkan grand design transformasi digital. Tantangan pertama adalah sumber daya manusia dimana tidak banyak yang berkompeten dalam menerapkan teknologi secara penuh. Tantangan berikutnya adalah membuat budaya kerja digital yang tentu membutuhkan waktu yang lama agar semua pegawai di universitas bisa beradaptasi dengan itu. Situasi ini menimbulkan tantangan yang pelik.

Di lain pihak, Dekan FIKOM Universitas Padjajaran, Dr. Dadang R.  Hidayat memiliki pandangan lain soal transformasi digital. Ia mengatakan bahwa sebenarnya teknologi sudah ada di lingkungan kampus. Namun, menurutnya, teknologi masih menjadi sebatas gaya hidup bukan untuk memenuhi aspek fungsional dalam menjalankan tugas institusi. Sehingga, untuk bertranformasi, dibutuhkan perubahan paradigma menjadi digital functional culture. Hal ini juga dirasakan oleh Rektor IPB, Prof. Arif Satria dimana ia menyebutkan bahwa tantangan utamanya adalah perubahan budaya, dari analog menjadi digital, dari full paper menjadi paperless.

Pendapat dari Rektor IKB LSPR, Dr. Andre Ikhsano melengkapi tantangan yang dihadapi. Secara garis besar, tantangannya meliput aspek pedagogi, aspek ketersediaan teknis-mekanis seperti hardware, software, dan learning management system, membangun kompetensi digital baik itu di kalangan dosen maupun pegawai, dan terakhir membangun budaya kerja digital. Keempat aspek ini adalah penentu dari apakah perguruan tinggi mampu bertahan, menjadi institusi inovatif dan adaptif terhadap segala perubahan zaman.

 

Digital Maturity di Perguruan Tinggi

Ke depannya, perguruan tinggi harus mencapai yang disebut digital maturity. Konsepnya adalah bagaimana universitas mampu mengintegrasikan tiga hal ini: menggunakan infrastruktur cloud, akses luas terhadap data, dan mengembangkan alat-alat digital seperti machine learning, advance analytics, dan kecerdasan buatan. Di Amerika Serikat, kondisinya sebenarnya serupa dengan Indonesia. Dalam survei kolaborasi Boston Consulting Group (BCG) dengan Google tahun 2021 yang menyasar para pemimpin perguruan tinggi AS, hampir semua sepakat bahwa pendidikan perlu untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam sektor pendidikan. Tetapi, analisis lebih jauh menemukan bahwa hanya ada satu pertiga dari leaders di bidang pendidikan yang mengintegrasikan datanya ke cloud. Selain itu pula, hanya 25% yang rutin menerapkan analisis data tingkat lanjut.

Selain itu, dari sudut pandang pengajar, tentu transformasi digital memberikan keuntungan dan kerugian. Riset Watermeyer, et.al (2020) yang meneliti bagaimana dampak migrasi digital kepada 1.148 pengajar dari semua level di Inggris menemukan bahwa migrasi digital menyebabkan mereka merasa terkungkung dan lebih sebagai teknisi daripada seorang instruktur, beban kerja yang berlebih, dan ancaman kehilangan pekerjaan, serta tuntutan yang lebih tinggi juga kesulitan membagi waktu personal dan professional. Namun, mereka juga merasakan keuntungannya seperti bisa menyiapkan materi sesuai dengan waktu preferensi dan dapat lebih sering berkomunikasi dengan sesama anggota fakultasnya.

Dari survei dan penelitian diatas, kita bisa melihat bahwa memang masih butuh adaptasi yang lebih lama agar perguruan tinggi bisa mendeklarasikan diri sebagai sebuah institusi digital performer. Jika kita merujuk pada kasus Indonesia, menurut Mendikbud tahun 2019, Muhammad Nasir, hanya 15-20 perguruan tinggi dari 4.741 kampus yang telah menerapkan e-learning. Apabila menganalisis tantangannya hingga saat ini, tantangan terbesar adalah bagaimana mengurangi gap teknologi yang besar. Gap teknologi yang saya maksud adalah bagaimana meningkatkan kemampuan dan kompetensi yang dimiliki mulai dari aspek teknis maupun non teknis. Jika gap teknologi ini semakin lama berkurang, maka Perguruan Tinggi di Indonesia bisa menjadi institusi digital mapan yang siap menyongsong zaman. Inilah tugas leaders di perguruan tinggi saat ini.

 

Transformasi Digital Perguruan Tinggi

            Tantangan-tantangan diatas perlu diatasi oleh para cyber leaders agar mereka bisa menyambut perubahan, menjadi kampus yangi inovatif dan inventif, serta mampu menjawab berbagai pertanyaan zaman. Ruang digital rawan akan serangan siber sehingga para cyber leaders harus mampu mengelola krisis dengan mempertimbangkan berbagai kepentingan, informasi yang tidak lengkap, dan memiliki rencana jika misalnya terdapat kerusakan. Cyber leaders harus proaktif, bertindak secara efektif dan efisien serta bertanggung jawab terhadap hal-hal yang mereka rencanakan dan lakukan, dan diatas itu semua, leaders harus bertindak cepat.

            Agar ke semua tantangan yang dihadapi bisa dilakukan dan diselesaikan, ada tiga bahan utama yang harus dimiliki agar bisa melakukan transformasi digital secara utuh. Tiga bahan itu adalah pola pikir, kemampuan, dan budaya kerja. Bicara pola pikir yang menurut saya harus dikembangkan adalah pola pikir kewirausahaahn. Ini juga diungkapkan oleh Wisnu S. Dewobroto (Head of PUCEL, Podomoro University Center of Entrepreneurial Leader & Head of Entrepreneurship Program Universitas Podomoro).

Menurutnya, pola pikir kewirausahaan sangat penting bagi setiap cyber leaders untuk memimpin anggotanya, Dia tidak mengartikan kewirausahaan itu sebagai profesi, melainkan sebuah pola pikir yang berorientasi pada aksi “entrepreneurial thought and action”. Menjadi pribadi yang walk the talk, peka terhadap lingkungan sekitar, dan mau berbuat sesuatu untuk mengubah lingkungannya serta menjadi solutor bagi masyarakat dengan dampak signifikan dan juga berkelanjutan. Pola pikir ini penting sekali untuk diterapkan dan dijejalkan oleh para anggota, termasuk kepada murid itu sendiri. Pola pikir kewirausahaan ini mewajibkan setiap orang memiliki etos kerja yang baik, disiplin, dan tidak mudah putus asa.

Ketika pola pikir yang dimiliki sudah tepat, kunci berikutnya adalah mengembangkan budaya kerja. Dr. Andre Ikhsano tepat menyebutkan bahwa insan dikti harus memiliki etos kerja yang kuat serta mampu mandiri. Melakukan kerja tanpa perlu adanya monitoring langsung. Itu berarti, pemimpin mengandalkan inisiatif dan kesadaran para anggotanya untuk melakukan tugas yang telah diamanahkan olehnya. Untuk mencapai tahap ini memang dibutuhkan supervisi secara berkala. Tetapi, lambat laun, jika pola pikir dan budaya kerja dikembangkan dengan tepat, bukan tidak mungkin, para anggota bisa bekerja secara mandiri.

Selain itu, budaya kerja kolaboratif juga perlu dikembangkan. Berdasarkan riset yang dikeluarkan oleh American Council on Education dan TIAA Institute tahun 2021 tentang respon pimpinan Universitas terhadap COVID-19, mereka mempertimbangkan partnership dengan institusi atau organisasi lain di bidang pelayanan administratif dan program akademik. Dr. Dadang mengatakan ini secara gamblang mengatakan bahwa pemimpin perlu memimpin transformasi digital secara adaptif dan kolaboratif supaya integrasi teknologi digunakan secara tepat. Bahkan, dia memberikan pernyataan yang menggelitik bahwa teknologi digital akan lebih berdaya guna jika digunakan oleh smart people dan smart institution.

Prof. Djwantoro menambahkan bahwa tim harus memiliki pemahaman akan budaya kerja institusi yang baik. Selain itu, pemimpin juga harus memahami organizational development dalam konteks digital dengan baik. Untuk itu, leaders harus melibatkan staf sendiri yang kompeten, tetapi tidak berada di dalam struktur kepemimpinan, sehingga bisa menghasilkan rancangan perubahan yang out-of-the-box.

Dua budaya ini yang telah diterapkan oleh IPB dimana mereka telah mengubah cara kerjanya dengan berteman dengan teknologi, melakukan efisiensi anggaran, mengalokasikan anggaran untuk mengembangkan cara belajar digital yang inovatif seperti berlangganan aplikasi webinar, investasi untuk studio pembelajaran, studio podcast, penyuluhan kepada petani secara online, hingga aktivitas lain seperti seleksi calon mahasiswa baru juga dilakukan secara online. Semua nantinya akan dilakukan dengan memanfaatkan teknologi dan saat ini pula, IPB mengembangkan smart classroom yang membuat dosen bisa mengajar kepada mahasiswa di seluruh pelosok Nusantara bahkan dunia. Budaya seperti ini yang menurut saya akan menjadi wajah pendidikan yang baru. Semua perubahan ini dimulai saat Prof. Arif Satria membentuk Direktorat Sistem Informasi dan Transformasi Digital IPB yang tugasnya adalah memfasilitasi seluruh unit kerja untuk melakukan pekerjaan dengan menggunakan sistem informasi yang dibangun direktorat agar digunakan bersama-sama dengan seluruh unit kerja tersebut. Tujuan pelibatan unit kerja adalah untuk membangun kepemilikan bersama (rasa memiliki), sekaligus agar proses bisnis yang dibuat tidak melenceng dari yang telah direncanakan.

Ketika bicara soal kompetensi sebagai bahan berikutnya, Andre Ikhsano menyebutkan bahwa menjadi seseorang yang tech savvy adalah must-have competency. Beberapa dekade mendatang, kita akan terus hidup berdampingan dengan teknologi dan menyaksikan inovasi teknologi lainnya. Oleh karena itu, menjadi sosok pendidik yang paham akan itu menjadi sangat penting, terutama jika bicara dalam aspek komunikasi. Mengutip dari MIT, penelitian baru menemukan bahwa organisasi yang eksekutifnya memiliki kemampuan digital savvy akan mengalahkan kompetitornya. Pertumbuhan pendapatan akan 48% lebih tinggi jika para leaders memiliki pemahaman bagaimana menggunakan teknologi terkini. Jika diterapkan di pendidikan tinggi, kita mungkin tidak hanya berbicara soal pendapatan, namun menciptakan sebuah inovasi pendidikan dan pengajaran.

IPB juga telah menerapkan teknologi dari hulu ke hilir : proses penerimaan mahasiswa baru hingga kelulusan mahasiswa, penelitian, keuangan, sampai administrasi aset dan perpustakaan digital. Selain itu pula, dosen dan mahasiswa disiapkan berbagai fasilitas digital yang user friendly untuk menunjang berbagai kebutuhan dengan dilengkapi pendampingan dan pelatihan agar mereka menjadi insan yang tech savvy. LSPR juga menerapkan hal yang sama, bahkan sudah mengembangkan e-learning sejak tahun 2017, ujar Andre. Dengan pengalaman yang cukup lama ditambah kompetensi mahasiswa, dosen, serta kepegawaiannya membuat transformasi digital dari hulu ke hilir semakin mudah.

 

Namun, di atas itu semua, cyber leadership tidak akan bisa diterapkan jika tidak menguatkan aspek komunikasi yang kuat. Leaders harus terus berkomunikasi secara terbuka dan jelas agar pesan yang disampaikan tidak multitafsir. Selain itu, leaders juga perlu menunjukkan autentisitas dan empati dalam berkomunikasi dengan dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan. Karena di masa pandemi ini, empathic communication sangat penting.

 

Menyambut Era Cyber Leadership di Perguruan Tinggi

            Zaman sekarang dan beberapa dekade mendatang saya kira merupakan eranya cyber leadership. Intensitas bermain media sosial yang semakin masif, penetrasi internet yang semakin memasuki ruang-ruang primer masyarakat dan berbagai sektor menjadikan ini sebagai alasan yang kuat untuk meningkatkan kapabilitas cyber leadership. Khususnya sektor pendidikan tinggi yang menjadi jembatan bagi generasi masa depan dan dunia kerja. Para cyber leaders saat ini dan ke depannya tidak hanya menjadi pemimpin yang handal, mampu mentransformasi perubahan, tetapi menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya, baik itu tenaga kependidikan, dosen, maupun mahasiswa.

Terlebih, pendidikan sekarang akan mencampuradukkan antara cara belajar offline dan online. Di Universitas Indonesia misalnya, mereka melakukan riset tentang preferensi cara belajar ketika pandemi berakhir dan menemukan kalau 48 persen mahasiswa menginginkan blended learning. Bahkan, 61 persen dosen memilih untuk menerapkan blended learning. Itu artinya, cyber leaders harus mengencangkan sabuk pengaman untuk melakukan transformasi digital.

Semua bahan yang disebutkan diatas bertujuan untuk satu hal penting terkait cyber leadership. Ini dijelaskan dengan baik oleh Dr. Ruddy J.S (Head of Computing Center Universitas Gunadarma). Kuncinya adalah bagaimana setiap peran (roles) dalam sistem dapat bertransformasi menghadapi perubahan paradigma baru, baik dalam penggunaan teknologi dan cara berkomunikasi. Salah satu kunci yang menentukan keberhasilan dari transformasi tersebut ada konsistensi dan komitmen seluruh pihak terutama dukungan pimpinan perguruan tinggi, selain dari membuat produk-produk digital yang memang telah dipersiapkan dengan baik dalam segala aspek mulai dari user experience sampai dengan teknologi yang digunakan.

Untuk memenuhi itu, para cyber leaders harus memprioritaskan memperkuat sektor sumber daya manusianya di bidang teknologi. Menurut riset dari Antonopoulou, et.al (2021), ada empat kemampuan teknologi teratas yang bisa dimanfaatkan oleh para leaders, yakni media sosial, web development and tools, mobile app, dan big data. Cyber leaders juga perlu menanamkan prinsip dari Alvin Toffler, yakni learn, unlearn, and relearn. Melakukan resklling dan upskilling kepada tenaga kependidikannya. Untuk mempertahankan talenta digitalnya, cyber leaders di perguruan tinggi harus menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, inklusif, bersahabat, dan juga menerapkan sistem meritokrasi.

Memang, masih banyak tantangan yang akan muncul mengingat integrasi teknologi secara penuh baru dilakukan satu tahun ke belakang. Integrasinya pun masih bersifat reaktif dibandingkan solutif. Namun, bukan berarti tidak mungkin. Peran cyber leaders menjadi sangat penting untuk mengeluarkan perguruan tinggi dari berbagai ketertinggalan, mengakselerasi hadirnya inovasi baru yang berdampak, dan membentuk institusi pendidikan sebagai produsen generasi masa depan dengan kompetensi yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan industri.*

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Leave a Reply

Required fields are marked *

Related Posts

Gowork – Senayan City Lv. 15
Jl. Asia Afrika No. Lot. 19, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10270,
Indonesia

Email : redaksi@dutanusa.com

Informasi

Newsletter

© 2021 All rights reserved​

Made by DutaNusa Team