Trending News

Bermakna Bersama Publik (Bagian 5)

Rapat rutin Direktorat Diplomasi Publik,


(Dutanusa.com Bagian 5)
(Diangkat dari “Buku Diplomasi Publik, Catatan, Inspirasi dan Harapan” – 2018
Oleh Al Busyra Basnur)

Vanny adalah seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, yang kampusnya terletak di kawasan Ciputat. Seperti mahasiswa lainnya, untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan kuliah, Vanny bekerja magang selama beberapa bulan di Direktorat Diplomasi Publik, Kemlu .

Vanny memiliki minat yang besar untuk mengetahui berbagai hal yang berkaitan dengan diplomasi publik. Terutama yang dilakukan oleh Indonesia. Ia juga serius, rajin dan selalu ingin ikut membantu setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Diplomasi Publik, baik kegiatan di dalam kantor maupun di luar kantor Kemlu .

Salah satu kontribusi Vanny adalah ikut membantu menyiapkan bahan-bahan buku yang berjudul “Permata Dari Surga.” Buku yang digagas oleh Dr. A.M. Fachir, yang sekarang menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri itu, diterbitkan oleh Kemlu  bekerjasama dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Buku itu diluncurkan pada tanggal 1 Juni 2016, bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila,  di kampus UIN.

Selain Vanny, seorang mahasiswa magang lainnya yaitu Trixie, dari London School of Public Relations (LSPR), juga memberi kontribusi penting untuk buku itu. Dia ikut merancang awal cover depan buku tersebut.

“Permata Dari Surga” adalah buku yang berisi tentang penjelasan singkat yang memotret dengan baik dinamika kehidupan beragama di Indonesia. Buku itu juga memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai toleransi dan hubungan antar umat beragama di Indonesia.  Keberagaman dan toleransi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dan identik dengan Indonesia.

“Direktorat Diplomasi Publik dibentuk tahun 2002, ketika Kementerian Luar Negeri RI dipimpin oleh Bapak Hassan Wirajuda,” kata saya menjawab pertanyaan Vanny yang saat itu duduk persis di depan, di seberang meja kerja saya.

Siang itu saya ngobrol sejenak dengan Vanny. Seperti biasa, ditengah kesibukan menyelesaikan tugas-tugas, pada waktu-waktu tertentu, para mahasiswa magang juga sering berdiskusi dengan staf Direktorat Diplomasi Publik maupun dengan saya sendiri. Tidak saja menyangkut pekerjaan kantor, juga di luar tugas-tugas kantor terutama tentang pembinaan dan pengembangan diri.

Para mahasiswa magang tersebut juga banyak mendapatkan tips, pembelajaran dan kiat-kiat menuju sukses dalam menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Juga, bagaimana bekerja dan mengembangkan karir dengan baik sehingga bisa menjadi orang yang sukses.

“Berarti Direkturnya sudah banyak ya, Pak? Siapa saja Direktur Diplomasi Publik sebelum Bapak?,” tanya Vanny ingin tahu.

Sebelum menjawab pertanyaan itu, saya terdiam sejenak sambil berpikir.

“Ayo ikut saya ke ruang sebelah,” ajak saya sambil segera berdiri dari tempat duduk. Vanny ikut berdiri. Saya melangkah menuju ruang rapat yang terletak persis di sebelah ruang kerja saya. Vanny mengikuti saya dari belakang.

Ruangan itu sebetulnya tidak hanya digunakan untuk keperluan rapat. Juga tempat menerima tamu-tamu Direktorat. Sekali-sekali ruangan itu juga berfungsi sebagai operational room bagi kegiatan-kegiatan yang lebih besar yang diselenggarakan Kemlu. Misalnya, Bali Democracy Forum (BDF), program Beasiswa Seni dan Budaya (BSBI), dan kegiatan masyarakat Indonesia di luar negeri yang sering juga disebut diaspora.

Setelah memasuki ruangan rapat, saya mengajak Vanny melihat ke salah satu sisi dinding ruangan. Di dinding itu dipajang foto Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Di bawah foto Presiden dan Wakil Presiden digantung pula beberapa buah foto berukuran besar.

“Nah, lihat foto-foto ini,” kata saya kepada Vanny sambil menunjuk ke beberapa foto yang di bingkai dengan rapi. Siapapun yang pernah ikut rapat atau bertamu ke Direktorat Diplomasi Publik dan diterima di ruangan rapat itu, pasti pernah melihat foto-foto yang saya tunjukkan kepada Vanny.

“Oh, ini ya Pak. Siapa saja mereka?,” tanya Vanny yang terlihat antusias.

“Iya. Ini adalah Direktur Diplomasi Publik yang pertama, Bapak Kristiarto Legowo. Setelah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal, sekarang beliau bertugas sebagai Duta Besar RI di Australia. Sebelum menjabat sebagai Sekretaris Jenderal, beliau adalah Duta Besar RI di Manila. Sekarang Sekretaris Jenderal Kemlu, yang menggantikan Bapak Kristiarto adalah Bapak Duta Besar Mayerfas. Sebelumnya, beliau adalah Duta Besar RI untuk Vietnam dan Inspektur Jenderal Kemlu .”

“Yang ini, Pak?,” Vanny menunjuk ke foto yang ada di sebelahnya.

“Beliau adalah Bapak Andri Hadi, Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler merangkap Kepala Protokol Negara. Sebelumnya beliau adalah Duta Besar RI untuk Singapura. Sebelum bertugas di Singapura, beliau adalah Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik. Beliau juga pernah menjabat sebagai Wakil Duta Besar RI di Washington.”

“Nah, selanjutnya kamu pasti mau menanyakan yang ini, kan?,” tebak saya dengan pasti sambil menunjuk foto yang terpajang di sebelah foto Bapak Andri Hadi itu. “Beliau ini adalah Bapak Umar Hadi, sekarang Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan. Sebelumnya beliau adalah Konsul Jenderal Republik Indonesia di Los Angeles, Amerika Serikat. Beliau juga pernah menjabat sebagai Wakil Duta Besar RI di Den Haag.”

Vanny mengangguk-anggukkan kepalanya  tanda  paham. Ia juga  terlihat kagum. “Yang terakhir, yang ini Pak,” tanya Vanny.

“Beliau adalah Ibu Kusuma Habir. Almarhumah. Beliau telah mendahului kita pada tahun 2016. Beliau pernah menjabat Wakil Duta Besar RI di Canberra, Australia.”

“Innalillahi wa innailaihi rojiun,” Vanny mengucap sambil menatap serius foto itu cukup lama. “Foto Bapak mana?, kok nggak ada?,” tanya Vanny setelah menyadari tidak ada foto saya di deretan foto para Direktur Diplomasi Publik dari zaman ke zaman itu.

“Saya kan masih disini, Vanny. Setiap kali ada yang datang ke Direktorat Diplomasi Publik, pasti bisa melihat dan bertemu saya. Jadi, foto saya belum perlulah dipasang di dinding ini. Foto yang dipasang disini adalah foto-foto pejabat yang sudah menyelesaikan tugasnya sebagai Direktur Diplomasi Publik.”

“O, begitu ya, Pak,” kata Vanny mengangguk paham sambil menyandarkan lengannya di salah satu sandaran kursi di ruang rapat itu.

Setelah menjelaskan foto-foto mantan Direktur Diplomasi Publik itu, saya dan Vanny melangkah kembali ke ruang kerja saya. Kami pun duduk.

“Pak, siapa saja sekarang Eselon dua dibawah Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik. Saya belum kenal dengan mereka.”

“Selain saya, ada Pak Azis Nurwahyudi sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal, ada Pak Duta Besar Teguh Wardoyo sebagai Direktur Keamanan Diplomatik yang sebelumnya menjabat sebagai Duta Besar RI di Amman, ada Ibu Siti Sofia Sudarma sebagai Direktur Informasi dan Media serta Pak Mohammad Syarief Alatas sebagai Direktur Kerja Sama Teknik. Nanti, kapan-kapan, akan saya perkenalkan kamu dengan beliau-beliau itu.”

“Direktur Jenderalnya?”

“Sekarang Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik atau IDP adalah Bapak Cecep Herawan, sebelumnya beliau bertugas sebagai Wakil Duta Besar RI di Seoul, Korea Selatan. Sebelum itu, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal IDP adalah Ibu Duta Besar Niniek Kun Naryatie. Beliau pernah bertugas sebagai Duta Besar Indonesia di Ukraina. Sebelumnya lagi, Dirjen IDP adalah Ibu Esti Andayani. Beliau sekarang Duta Besar Indonesia di Roma.”

Vanny terlihat senang dan kagum. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Saya sudah membaca beberapa literatur dan mendengarkan paparan-paparan Bapak di berbagai kuliah umum maupun seminar. Namun, saya ingin tahu lebih jelas lagi tentang tugas Direktorat Diplomasi Publik di Kemlu ini, sebenarnya apa Pak?”

“Tugas Direktorat Diplomasi Publik adalah merumuskan dan melaksanakan kebijakan di bidang penyelenggaraan diplomasi publik untuk mendapatkan dukungan publik di dalam dan luar negeri terhadap pelaksanaan politik luar negeri di bidang politik, keamanan, ekonomi, pembangunan, sosial budaya, dan pemberdayaan masyarakat Indonesia di luar negeri, serta isu aktual dan strategis. Cukup panjang, kan?” saya menjelaskan.

“Pak, dahulu, sebelum tahun 2002, apakah Kemlu  juga menyelenggarakan kegiatan Diplomasi Publik seperti sekarang ini. Direktoratnya kan belum ada pada waktu itu, Pak?,” Vanny ingin tahu.

“Iya, ada. Kegiatan diplomasi publik Indonesia sudah diselenggarakan oleh Kemlu sejak lama, bersama-sama dengan rekan-rekan kerjanya, baik dari kalangan lembaga pemerintah maupun non-pemerintah. Bahkan semenjak Kemlu dibentuk tanggal 19 Agustus 1945, Indonesia telah menyelenggarakan berbagai kegiatan yang merupakan bagian dari diplomasi publik.”

“Nah, kalau demikian, apa perlunya Direktorat Diplomasi Publik dibentuk, Pak.”

“Pertanyaanmu bagus sekali, Vanny. Begini, ya,” saya memperbaiki posisi duduk saya. “Dalam pelaksanaan diplomasi sekarang ini, pendekatan kepada negara lain tidak hanya dapat dilakukan oleh pemerintah saja. Kalangan non-pemerintah juga berperan sangat penting dan menentukan. Dalam perkembangan diplomasi sekarang, diplomasi publik juga harus berhadapan dengan tokoh-tokoh yang berada di luar pemerintahan, baik di negara kita sendiri maupun di negara lain. Menyadari hal itu, maka dibentuklah direktorat baru, yaitu Direktorat Diplomasi Publik. Dengan membentuk direktorat baru ini, maka Kemlu akan lebih mudah menjangkau tokoh-tokoh publik,  baik yang berada di dalam maupun di luar negeri.”

“O, begitu ya Pak. Saya paham sekarang.”

“Iya, jadi dengan adanya Direktorat Diplomasi Publik di Kemlu, maka pelaksanaan kegiatan diplomasi publik Indonesia akan semakin fokus, berjangkauan luas, dan tepat sasaran.”

“Apalagi berkembangan teknologi yang sangat pesat dan maju sekarang ini, memberi peluang yang lebih besar bagi kegiatan diplomasi publik, kan Pak?”

“Betul sekali. Perkembangan teknologi menuntut kita untuk lebih kreatif, dinamis dan bekerja keras. Menlu RI, Ibu Retno sering mengingatkan agar kerja para diplomat Indonesia menyesuaikan dengan perkembangan teknologi saat ini. Kita bekerja berlari, tidak hanya berjalan cepat. Pada saat yang sama, kita juga harus berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaan. Karena, teknologi tidak semata-mata memberi peluang yang besar dan berguna untuk mendukung dengan baik pelaksanaan diplomasi publik. Teknologi juga menghadapkan bangsa kita kepada tantangan-tantangan yang tidak ringan, yang bisa berakibat buruk dan membahayakan.”

“Apalagi kalau bicara tentang media sosial. Tantangannya lebih berat lagi ya, Pak.”

“Benar. Dalam hal perkembangan teknologi dan penggunaan media sosial, saya teringat bahwa Menteri Luar Negeri, Ibu Retno, memegang gadget hampir sepanjang waktu dan kesempatan. Karena hampir setiap saat pesan masuk dari berbagai perwakilan RI di luar negeri untuk beliau, yang menginfokan suatu kejadian atau melaporkan suatu permasalahan yang memerlukan keputusan cepat.”

“Pejabat negara juga harus melek teknologi ya, Pak.”

“Iya. Harus. Kalau tidak, kita akan ketinggalan.”

“Pak, akhir-akhir ini banyak orang berbicara tentang diplomasi publik. Apalagi Kemlu sering masuk kampus atau sekolah-sekolah untuk berbicara tentang diplomasi publik. Kemlu juga aktif menjelaskan dan mendorong peranan masyarakat dalam kegiatan diplomasi  publik Indonesia. Apa sih, Pak, sebenarnya tujuan dari diplomasi publik itu sendiri?”

“Secara singkat, diplomasi publik itu bertujuan mencari teman sebanyak-banyaknya untuk mendukung kebijakan Indonesia, membela kepentingan Indonesia dan membantu Indonesia kapanpun, dimanapun dan dalam hal apapun. Wakil Menteri Luar Negeri, Pak Fachir, secara singkat sering mengatakan bahwa diplomasi publik itu adalah merangkul  berbagai pihak lain untuk bersama-sama kita memajukan Indonesia.”

“Saya mendapat informasi dari banyak teman, kegiatan Direktorat Diplomasi Publik banyak sekali Pak. Seberapa banyak sih Pak.”

“Iya, banyak, Vanny. Lebih dari seratus kegiatan dan aktifitas dalam setahun. Ada yang diselenggarakan di dalam negeri dan ada juga di luar negeri,”

“Wow …, banyak sekali Pak.”

“Iya, mestinya lebih banyak dari itu.”

“Lalu, kenapa begitu, Pak?”

“Pernah terjadi, beberapa kegiatan harus ditunda pelaksanaannya karena adanya penyesuaian dengan perkembangan dan kemampuan anggaran pemerintah.”

“Sayang sekali, ya Pak.”

“Namun demikian, meski anggaran terbatas, bahkan ada yang dikurangi, Direktorat Diplomasi Publik tetap berusaha agar kegiatan tetap dapat dijalankan, bahkan kalau perlu ditingkatkan. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan sinergi dengan berbagai pihak lain, rekan kerja kita, baik pemerintah maupun non-pemerintah.”

“Bisa, ya Pak.”

“Bisa dong. Buktinya, pada tahun 2016, persentase capaian dalam hal dukungan konstituen domestik dan internasional serta negara sahabat terhadap kegiatan Diplomasi Publik Indonesia mencapai 112,58 persen. Jauh di atas 100 persen.”

Vanny mengangguk-anggukkan kepalanya.

Saya senang sekali dengan berbagai pertanyaan yang diajukan Vanny.

“Vanny, sementara itu dulu ya. Nanti kita lanjutkan diskusi kita. Sebentar lagi saya harus menerima tamu.”

“Dimana Pak, di sini atau di ruang rapat?”

“Di ruang rapat, sebelah.”

“Ada yang bisa saya siapkan untuk Bapak?”

“Tidak usah Vanny, terima kasih.”

“Dari mana tamunya, Pak?”

“Kawan-kawan kita dari Purwakarta. Ada rencana untuk menyelenggarakan kegiatan di Purwakarta. Kami akan membahas hal itu,” kata saya menutup diskusi dengan Vanny.

Beberapa saat kemudian, Gugun, seorang tokoh pemuda yang sangat aktif beserta beberapa orang rekannya memasuki ruangan kantor Direktorat Diplomasi Publik. Mereka hendak bertemu, bersilaturahmi dan berdiskusi dengan saya. ***

 

Hanya dengan komitmen, mengenali dan mencintai pekerjaan, seseorang dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

 

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Leave a Reply

Required fields are marked *

Related Posts

Gowork – Senayan City Lv. 15
Jl. Asia Afrika No. Lot. 19, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10270,
Indonesia

Email : redaksi@dutanusa.com

Informasi

Newsletter

© 2021 All rights reserved​

Made by DutaNusa Team