Trending News

Leaducation : Implementasi dan Tantangan ke Depan

Oleh : Taufan Teguh Akbari, Ph.D
Pengamat Kepemimpinan dan Kepemudaan
Wakil Rektor 3 IKB LSPR, Jakarta

Berbagai tantangan, baik di lingkup organisasi, pemerintah, dan perusahaan, membuat peran pemimpin menjadi semakin vital. Karena itu, pemimpin perlu mendidik dan memberdayakan anggotanya agar tantangan dapat dilalui. Leaducation menjadi konsep kepemimpinan yang bisa digunakan untuk menjawab tantangan tersebut. Pendekatan pendidikan diperlukan untuk menciptakan bibit unggul. Seorang leaducator punya peran untuk mengembangkan anggotanya.

Implementasi Leaducation ini tentu tidak terlepas dari tantangan karena banyak aspek yang harus diperhatikan. Oleh karenanya, tidak semua orang mampu menjadi leaducator karena mereka harus punya kepercayaan, keberanian, kecerdasan, disiplin, dan kemanusiaan. Ada banyak fenomena yang membuat leaders belum mampu menyebut dirinya sebagai seorang leaducator terutama dari segi bagaimana mereka memperlakukan anggotanya.

 

The Meaning of Work

            Kita akan mulai pembahasan ini dari anggota karena aspek terpenting dari segala sektor adalah sumber daya manusia. Dan tahun ini, terdapat sebuah fenomena yang disebut The Great Resignation, sebuah fenomena dimana banyak anggota yang keluar dari pekerjaannya. Dan memang, ini sudah terbukti. Di Amerika Serikat misalnya, pada bulan April, Mei, dan Juni, 11,5 juta pekerja dilaporkan keluar dari pekerjaan mereka. Angka ini terbilang besar dan menunjukkan adanya fenomena yang kontradiktif sebenarnya dimana pandemi seharusnya membuat masyarakat sulit mendapatkan pekerjaan.

Gallup mengeluarkan sebuah riset yang berjudul State of the Workplace: 2021 report yang menjawab fenomena diatas. Berdasarkan survei mereka tahun ini, 20-34% anggota yang bekerja di AS dan Kanada tidak merasa engage dengan pekerjaan yang mereka lakoni. Artinya, anggota tidak terlalu puas dengan pekerjaan yang mereka lakoni. Anggota yang tidak bersemangat tentu merugikan. Gallup bahkan mencatat, bahwa apabila perusahaan yang memiliki 10.000 anggota dengan gaji per tahun 50 ribu dollar, disengagement berharga sebesar 60,3 juta dollar per tahun.

Jika melihat dari sudut pandang perusahaan, jumlah ini tentu sangat merugikan di tengah goncangan bisnis akibat pandemi. Namun, dari sudut pandang lain, ini bisa terjadi karena tidak ada pola hubungan yang harmonis antara pemimpin dan anggota. Seorang leaducator mampu membangun hubungan yang baik tanpa merasa ada sekat hierarki yang membatasinya. The great resignation terjadi karena kegagalan pemimpin – khususnya manajer dalam membina dan memberdayakan anggotanya. Sehingga, anggota merasa tidak engage dengan pekerjaannya dan membuat makna dari pekerjaan itu hilang.

Setiap orang membutuhkan makna dalam hidupnya dan tentu saja pemimpin harus memahami itu. Tanpa makna, individu tidak akan mendapatkan energi positif dari pekerjaan dan malah menghimpun energi negatif. Kita tidak bisa menyalahkan ini pada perusahaan karena mereka harus bertahan atau terjadi pemutusan hubungan kerja massal. Sehingga, tuntutan untuk bekerja semakin tinggi agar objektifnya bisa dicapai.

Akan tetapi, pemimpin di semua hierarki tentu perlu mempertimbangkan bahwa anggota adalah elemen penting dalam organisasi mereka. Seorang leaducator perlu mempertimbangkan aspek kemanusiaan juga, seperti bagaimana kesehatan mental mereka, kondisi pribadinya, dan lain sebagainya. Sehingga, anggota pun merasa diperhatikan oleh pemimpinnya

 

 

Akses Belajar Terbatas

Salah satu hal lain yang membuat implementasi konsep leaducation ini kurang mengena adalah karena tidak ada kesempatan bagi anggota untuk belajar. Salah satu penyebab mengapa tidak ada kesempatan bagi anggota buat mengembangkan diri adalah tidak memadainya alat yang tepat. Survei dari Inkling tahun 2020, perusahaan yang berbasis di San Francisco, mengatakan bahwa hanya ada 28% perusahaan yang siap menjawab kebutuhan pengembangan diri anggotanya.

Riset lain dari kolaborasi antara CIPD dan Accenture 2021 mengatakan bahwa anggaran finansial untuk learning and development berkurang sebesar 31% dalam dua belas bulan terakhir. Ini terjadi karena pandemi memaksa perusahaan untuk melakukan pemotongan anggaran. Implikasinya adalah terdapat sektor-sektor yang harus dikorbankan agar keuangan tetap stabil.

Meskipun begitu, berkurangnya budget L&D menunjukkan bahwa pemimpin belum memiliki kemauan untuk memberdayakan dan mengembangkan kemampuan anggotanya. Seorang leaducator perlu mempertimbangkan pemenuhan fasilitas dan sarana serta prasarana yang dibutuhkan anggota agar mereka bisa belajar dan membuat mereka naik level, baik dari segi kualitas maupun kompetensinya.

Padahal, merujuk pada riset PwC 2021, 77% siap untuk belajar kemampuan baru dan 80% siap beradaptasi dengan teknologi baru yang memasuki lingkungan kerja mereka. Keinginan ini seharusnya bisa diakomodir oleh para pemimpin. Semangat belajar mereka perlu difasilitasi dengan baik dengan menyediakan sarana dan prasarana yang tepat kepada anggotanya. Terlebih, semakin kompeten anggotanya tentu menguntungkan perusahaan dalam jangka panjang.

Berdasarkan riset dari Kum, et.al (2014) yang meneliti Escon Consulting menemukan, mayoritas peserta setuju pelatihan dapat meningkatkan produktivitas organisasi dan percaya bahwa pelatihan dapat meningkatkan peluang karir mereka. Riset ini tentu menunjukkan bahwa ada dampak yang besar jika tersedianya kesempatan belajar melalui training and development. Anggota akan merasa bahwa perusahaan tempatnya bekerja memiliki fokus bagaimana meningkatkan kapasitas anggota mereka. Sehingga, anggota merasa lebih engage dengan pekerjaan yang dilakoni mereka.

 

Investasi SDM di Masa Depan

Seorang leaducator menganggap bahwa manusia adalah kunci utama dari kemajuan. Di zaman ini, teknologi memang memegang peran penting dalam kemajuan organisasi. Tetapi, tanpa manusia, teknologi hanya menjadi benda mati semata. Oleh karena itu, investasi di manusia adalah kunci utama dalam merengkuh organisasi yang maju dan menjadi yang terdepan. Salah satu cara yang bisa diketemukan adalah mempertemukan seseorang dengan latar belakang yang berbeda atau keberagaman.

Kabar baiknya, keberagaman telah menjadi isu mainstream dan perusahaan saat ini telah berupaya untuk itu. Misalnya, survei dari BVCA 2021 terhadap 73 firma ekuitas mengungkapkan beberapa hal penting: ada 3% Wanita yang berkulit hitam. asia, dan etnisiti lain yang menduduki posisi senior; ada 17% individu yang berkulit hitam, asia, dan etnis lain yang menduduki posisi senior; dan ada 20% % individu berkulit hitam, asia, dan etnis lain yang bekerja di private equity dan venture capital.

Data ini menunjukkan bahwa keberagaman mulai menjadi fokus utama. Seorang leaducator memang harus inklusif. Karena, manusia pada dasarnya sama. Kita tidak ingin dilahirkan seperti yang mereka rasakan dan nikmati. Kita hanya menerima apa yang telah diberikan kepada Tuhan dan memanfaatkannya. Oleh karena itulah, leaducator harus memandang manusia itu dalam kacamata global, yakni manusia, bukan dari sudut pandang etnis, warna kulit, dan tempat mereka tinggal.

Seorang leaducator saat ini perlu membangun kualitas dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Investasi terhadap manusia membutuhkan keteladanan dari pemimpin itu sendiri. Pemimpin harus jadi contoh yang baik bagi anggotanya, mendemonstrasikan keteladanan bagi sekitarnya. Karena, pemimpin adalah corong keteladanan. Dalam lingkup organisasi, perusahaan, dan pemerintahan, pemimpin seperti mercusuar yang menjadi cahaya bagi orang-orang di lautan sana.

Jika kita kaitkan ke dalam praktek entitas praktis, Dachner, et.al (2021) mengatakan bahwa organisasi bisa mengelola sumber daya dengan lebih baik dengan berbagai cara dimana karyawan proaktif sebagai suplemen strategis untuk pengembangan diri. Selain itu, lebih jauh mereka mengatakan bahwa praktik pengembangan proaktif menyediakan sarana bagi perusahaan untuk berinvestasi dalam sumber daya manusia untuk meningkatkan kinerja organisasi sambil meminimalisir resiko.

Selain itu, organisasi juga butuh melihat bagaimana perspektif anggotanya dalam konteks learning and development. Lancaster & Milia (2014) mengatakan bahwa apabila organisasi ingin berdampak positif terhadap pengembangan anggotanya, mereka harus memperitmbangkan setidaknya tiga hal berikut: menyediakan program pengembangan relevan berkualitas tinggi; memastikan bahwa konten pelatihan selaras dengan strategi organisasi dan pekerjaan anggota; dan memastikan komitmen manajemen senior di seluruh aspek proses pengembangan anggota.

Singkatnya, pemimpin adalah kunci untuk memastikan bahwa anggotanya memiliki moral yang baik, berani dalam bertindak dan mengakui kesalahan, cerdas serta adaptif di berbagai situasi ditambah non-diskriminatif. Tiga fondasi ini menurut saya sangat penting untuk dikembangkan agar di masa depan nanti tercipta leaducators yang inklusif, kolaboratif, dan partisipatif.

Pada intinya, pemimpin harus mampu memberdayakan dan meningkatkan kapasitas anggota-anggotanya agar organisasi mampu berjalan dengan maksimal. Berikan kesempatan seluas-luasnya bagi anggota untuk mengeluarkan kreativitas dengan menciptakan iklim bekerja dan beraktivitas yang ramah inovasi. Pertemukan dengan orang-orang dari beragam latar belakang agar sisi kemanusiaan anggota tumbuh. Berikan kepercayaan untuk melakukan sesuatu agar ke depan, ketika menjadi pemimpin, mereka tidak segan-segan memberikan kepercayaan kepada orang lain.

 

Regenerasi Menjadi Kunci

Leaducator perlu memahami bagaimana pentingnya sebuah regenerasi bagi organisasinya. Tanpa regenerasi, roda organisasi tidak akan bertahan lama. Perencanaan regenerasi harus dimatangkan di setiap organisasi untuk kebutuhan jangka panjang.

Di Indonesia dan di seluruh dunia, kita perlu menyoroti keberadaan Corporate University (CU) sebagai wadah menghasilkan bibit-bibit unggul untuk perusahaan. Perusahaan besar seperti PLN dan BRI memiliki tempat pendidikannya sendiri: Institut Teknologi PLN dan BRI Corporate University. Keberadaan universitas tersebut merupakan bentuk komitmen pemberdayaan dan peningkatan kapasitas anggotanya.

Riset dari Buryakov, et.al (2019) mengungkapkan bahwa model dan teknik dari edukasi korporasi ini adalah untuk menciptakan model pengembangan sumber daya manusia yang optimal dan memastikan stabilitas keuangan perusahaan. Terkait faktor yang menyebabkan kemunculan CU, Paton, et.al (2017) menjelaskan bahwa sebenarnya tidak ada bedanya kemunculan universitas di sektor private dengan institusi publik. Faktor-faktornya seperti ingin menjaga kecepatan dalam masyarakat berbasis pengetahuan, seringnya reformasi dan restrukturisasi institusi, komitmen terhadap e-society, dan meningkatnya kepedulian terhadap peningkatan kualitas yang dapat dibuktikan dengan pendidikan.

CU bisa menjadi corong regenerasi yang baik bagi organisasi. Mereka bisa menemukan bakat yang sesuai dengan kompetensi yang diinginkan. Terlebih, mencari individu dengan kualitas sesuai sangat sulit dan memakan waktu yang banyak. Oleh karena itu, CU dapat menjadi alternatif lainnya bagi organisasi untuk menciptakan bibit-bibit unggul yang bisa meneruskan semangat organisasi.

Selain CU, ada satu cara lagi dimana seorang leaducator dapat menciptakan regenerasi yang baik. Leaducator bisa menciptakan hubungan mentor dan mentee. Setiap pemimpin juga memiliki seorang mentor yang mereka perhatikan dan ambil nilai-nilai positifnya. Bahkan Bill Gates pun juga memiliki mentor di dalam diri Warren Buffet. Mark Zuckeberg juga demikian, melihat Steve Jobs sebagai mentornya. Artinya, setiap leaducator yang sukses memiliki hubungan mentor dan mentee.

Dalam sebuah riset yang dilakukan Ayoobzadeh & Boles (2020) untuk melihat dampak mentoring dari mahasiswa senior Ph.D terhadap mahasiswa junior Ph.D, mereka mendapatkan dua hal penting. Pertama, mentoring membuat mahasiswa senior Ph.D justru meningkat kemampuan kepemimpinannya. Kedua, semakin banyak mentor yang melakukan mentoring, terbentuk sebuah identitas kepemimpinan yang membuat mereka lebih percaya diri memimpin sebuah project.

Sedangkan, manfaat program mentoring dari sudut pandang mentee tentu banyak: Mentee bisa mendapatkan inspirasi dan pengalaman dari mentor, membuat mereka lebih percaya diri, mendapatkan pengetahuan lebih banyak, dan memandu mentee agar bisa fokus terhadap karirnya.

Dari sini, kita bisa melihat keuntungan yang besar dari kita mentoring, baik itu kita sebagai mentor ataupun mentee. Disinilah peran leaducator sesungguhnya. Leaducator pada dasarnya melakukan pendidikan terhadap anggotanya. Memiliki program seperti ini tentu baik bagi organisasi di lingkup manapun, terutama jika kita berbicara transfer pengetahuan dan pengalaman.

Oleh karena itu, Leaducator bisa lebih banyak memiliki mentee untuk menciptakan regenerasi yang baik. Menghadirkan ruang kreatif dan inklusif untuk mendidik anggotanya. Regenerasi akan berjalan lancar dan bisa meminimalisir fenomena The Great Resignation, karena telah ada hubungan lebih harmonis antara pemimpin dan anggota. Anggota akan lebih semangat melakukan tugasnya karena mereka tahu, akan ada feedback yang membuat mereka berkembang dan menjadi calon pemimpin cemerlang dimasa depan. *

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Leave a Reply

Required fields are marked *

Related Posts

Gowork – Senayan City Lv. 15
Jl. Asia Afrika No. Lot. 19, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10270,
Indonesia

Email : redaksi@dutanusa.com

Informasi

Newsletter

© 2021 All rights reserved​

Made by DutaNusa Team