Trending News

Wirausaha Sosial, Inovasi dan Gerakan Masyarakat Sipil Berbasis Komunitas

Oleh :
Taufan Teguh Akbari, Ph.D
Wakil Rektor 3 – Institut Komunikasi & Bisnis LSPR
Founder Rumah Millennials
Co-Founder Indonesia Community Network

Saat ini Indonesia sedang berbenah dan bertransformasi dari berbagai aspek. Awal tahun 2021, Badan Pusat Statistik mengeluarkan hasil sensus penduduk yang menyatakan jumlah penduduk Indonesia sebesar 270.20 juta ditahun 2020. Pertengahan tahun 2020, Bank Dunia resmi mengelompokkan Indonesia sebagai negara berpendapatan menengah atas dengan GNI per kapita antara US$ 4.046 hingga US$ 12.535 per tahun. Perubahan status ini akan lebih memperkuat kepercayaan mitra dagang, mitra bilateral, investor dan mitra pembangunan atas ketahanan ekonomi Indonesia.

Indonesia dengan tingkat heterogenitas tinggi memiliki berbagai tantangan, terutama para pembuat kebijakan yang harus menghadirkan solusi bagi permasalahan sosial yang ada. Teknologi sangat berperan penting bagi Indonesia dalam menghadapi berbagai masalah sosial saat ini. Saya mengamati bahwa, 80% pergerakan masyarakat sipil yang berbasis sosial sudah bertumpu dengan infrastruktur digital saat ini.

Berkaitan dengan upaya pemecahan masalah yang terjadi ditengah masyarakat, inovasi sosial memiliki peran yang signifikan dalam proses transformasi Indonesia. Luaran dari produk inovasi sosial yang berhasil dieksekusi akan menghadirkan banyak solusi mulai dari akses pelayanan kemasyarakat yang lebih baik, munculnya ‘smart city’ hingga implementasi dari penggunaan energi terbarukan (renewable energy) yang lebih maksimal.

Semangat yang perlu dibangun dalam pelaksanaan inovasi sosial ditengah masyarakat perlu difasilitasi secara maksimal oleh pemangku kebijakan. Perlu hadirnya jaringan pentahelix yang terus dilestarikan agar cita-cita luhur kita menciptakan masa depan Indonesia yang lebih cerah dan berdaulat dapat terwujud.

Salah satu komponen dari ‘pentahelix’ adalah komunitas. Pemahaman komunitas dalam hal ini adalah suatu gerakan kemasyarakatan yang berada diluar pemerintah dan sektor bisnis. Sejak 10 tahun terakhir gerakan masyarakat sipil berbasis komunitas (community-based organization) di Indonesia jumlahnya semakin meningkat. Sebagian besar digagas oleh penduduk berusia produktif yang saat ini disebut dengan generasi millennial atau zillennial. Para penggerak sosial ini bergerak dalam isu permasalahan lintas bidang seperti lingkungan, kesehatan, Pendidikan, kesadaran sejarah, pemberdayaan sosial – ekonomi, budaya, kesetaraan gender, advokasi HAM,  advokasi kebijakan publik hingga harmoni dan toleransi antaretnis maupun agama.

Komunitas atau organisasi dinilai efektif dalam membuat dampak yang positif. Dampak tersebut berupa program komunitas yang dilakukan secara berkala, kampanye dan gerakan sosial, startup, atau program kegiatan yang bersifat rutin. Tren anak muda membuat perubahan melalui komunitas atau platform sedang marak terjadi di Indonesia.

Hadirnya berbagai jenis komunitas dan organisasi masyarakat sipil tidak terlepas dari keinginan anak muda Indonesia (milenial) untuk melakukan suatu perubahan. Gerakan sosial yang masif kini dapat menjadi solusi untuk memberikan perubahan pada bangsa Indonesia. Gerakan sosial ini juga dapat menjadi representasi dari definisi kepemimpinan baru versi generasi milenial, karena melalui gerakan sosial ini pemimpin muda yang mayoritas berasal dari kalangan generasi milenial dapat memengaruhi orang lain dengan kebaikan, dan hal tersebut akan menciptakan inspirasi-inspirasi kebaikan lainnya. Saat ini kita meyakini bahwa gerakan sosial melalui komunitas mampu berpengaruh, baik di tingkat lokal maupun tingkat nasional. Dan itulah wujud dari kepemimpinan. Gerakan sosial mampu menjawab tantangan itu.

Mengutip Hikam (1999), meningkatnya jumlah masyarakat sipil yang membentuk komunitas tersebut merupakan bentuk kemandirian yang cukup tinggi sebagai warga negara dengan kesadaran pemanfaatan ruang publik bebas. Mereka memilih terlibat aktif dalam melayani langsung kepentingan public diluar keterlibatan politik.

Gerakan masyarakat sipil berbasis komunitas saya prediksi akan semakin meningkat jumlahnya. Hal ini dibarengi dengan karakteristik dari generasi usia produktif yang ditahun 2020 mendominasi sekitar 70 persen total penduduk Indonesia (BPS, 2020).

Generasi muda dengan kepekaan terhadap berbagai permasalahan sosial akan lebih mudah tergerak menghadirkan inovasi sosial sebagai salah satu solusi praktis yang dapat dilakukan dengan dukungan teknologi informasi digital. Hadirnya organisasi masyarakat sipil berbasis komunitas dapat disebut sebagai masyarakat madani ‘civil society’. Masyarakat madani muda saat ini diharapkan dapat meneruskan perjuangan pendahulu dengan berbagai terobosan inovasi karya sosial demi peradaban generasi dan masyarakat yang lebih baik.

Komunitas yang bermunculan dalam menghadirkan inovasi sosial saat ini, merupakan bentuk inisiatif dari individu dan masyarakat. Hal ini tercermin dari semakin banyaknya pemikiran, gagasan dan ide inovatif yang menjunjung tinggi etika dan moralitas, transparan, toleransi, kolaboratif, emansipasi, dan mengedepankan. hak asasi.

Perwujudan inovasi sosial berbasis komunitas ini terbentuk atas dasar sistem sosial yang subur dengan prinsip moral yang menjamin kestabilan masyarakat dengan kebebasan individu. Sudah menjadi panggilan bagi masyarakat madani muda saat ini  dalam membantu menyuarakan dan merumuskan aspirasi masyarakat.

Mengutip Jalal & Wahyu (2019), inovasi sosial merupakan kunci utama dari bisnis sosial.

  1. Inovasi sosial adalah produk atau proses yang muncul ketika pendekatan konvensional gagal menyelesaikan masalah, ketika terjadi perubahan di dalam sistem sosial, atau ketika terjadi perubahan kelembagaan.
  2. Inovasi sosial muncul terutama di dalam pemecahan masalah sosial dan lingkungan yang disebabkan oleh kegagalan pasar.
  3. Inovasi sosial hadir saat teknologi dipergunakan untuk mengidentifikasi dan memecahkan kondisi ketidakpuasan masyarakat akibat penggunaan cara-cara konvensional.

Saya mengamati gerakan masyarakat sipil berbasis komunitas perlahan akan berproses kearah wirausaha sosial. Wirausaha sosial sendiri melihat berbagai masalah sebagai peluang untuk merancang sebuah model bisnis baru yang bermanfaat bagi pemberdayaan masyarakat lingkungan sekitar. Hal ini sesuai dari para pelaku wirausaha sosial yang saat ini juga bertindak sebagai agen perubahan Mereka bertujuan mengkonversi dan meningkatkan nilai-nilai sosial sebagai peluang untuk melakukan perbaikan masalah diberbagai bidang.

Kewirausahaan sosial yang menggabungkan orientasi sosial dan finansial dalam solusi pemecahan masalah makin berperan dalam pembangunan ekonomi. Hal ini ternyata terbukti mampu menciptakan kesempatan kerja, melakukan inovasi dan kreasi baru dalam memproduksi barang atau jasa yang dibutuhkan masyarakat, mengeskalasi modal sosial, dan meningkatkan kesetaraan. Saat ini dan kedepan, saya yakin akan semakin banyak sekali kita jumpai inovasi wirausaha sosial di Indonesia yang semakin  luar biasa besar, berdampak dan melibatkan penyebaran model bisnis baru yang memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Pelaku wirausaha sosial secara alami akan terlibat dalam proses inovasi, memetakan permasalahan dari hulu hingga hilir. Menganalisis situasi, beradaptasi hingga akhirnya dapat memberikan solusi terbaik dari karya inovasi sosial yang diberikan kepada masyarakat.

Inovasi sosial sendiri tidak dapat dianggap sebagai sebuah konsep yang ringan. Inovasi sosial butuh lebih banyak rambu-rambu, kriteria dan parameter penilaian. Kriteria terpenting adalah tingkat kesejahteraan masyarakat yang dihitung dengan metode yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Data yang diberikan harus benar menunjukan bahwa inovasi sosial tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang dituju. Inovasi sosial bertujuan memecahkan masalah yang dihadapi oleh masyarakat yang dibantu. Dampak baik dari inovasi sosial yang berhasil dievaluasi dari kondisi target sasaran penerima manfaat inovasi tersebut, baik dari aspek kesejahteraan atau derajat kualitas hidup yang lebih baik.

Pola pikir generasi saat ini yang semakin kritis menjadi modal intektual mereka untuk lebih bersemangat dalam memberikan manfaat sosial yang nyata bagi lingkungan sekitar. Mereka berusaha untuk memadukan antara inovasi sosial dengan kearifan lokal yang ada. Saiman (2011) menyatakan bahwa inovasi  terjadi  karena  perasaan  tidak  puas  terhadap  kondisi  dan  situasi  yang  ada  serta  adanya peluang untuk memperbaiki keadaan yang ada, inovasi harus dijadikan sebagai suatu alat dan bukan suatu  tujuan, tujuan dari suatu inovasi adalah perubahan atau perbaikan dari kondisi yang ada menjadi lebih baik,  namun tidak semua perubahan dapat dikatakan sebagai suatu inovasi .

Saya percaya bahwa perwujudan inovasi sosial saat ini sangat dekat dengan misi dari dari para wirausaha sosial (social entrepreneur). Wirausaha sosial melakukan pendekatan dengan bertujuan untuk  mencari  kesempatan, memperbaiki  sistem,  menemukan  pendekatan  yang  baru  serta  menciptakan  solusi  terhadap  perubahan  lingkungan yang  lebih  baik dengan strategi bisnis.

Komunitas yang merupakan cikal bakal dari lahirnya inovasi sosial berperan dalam memperluas cakupan nilai-nilai positif yang disebar ke masyarakat Indonesia. Masyarakat madani yang membangun komunitas perlu terbuka dan menjaga silaturahmi dengan komunitas yang memiliki nilai sejalan karena akan membuat mereka berjalan lebih baik dan lebih cepat.

Kolaborasi menjadi kata kunci terpenting untuk memaksimalkan potensi individu yang dimiliki pemuda Indonesia; dengan berkolaborasi pemuda Indonesia dapat saling mengisi kekurangan yang dimilikinya. Penggerak sosial perlu mengedepankan kolaborasi dengan berbagai pihak dalam menciptakan suatu karya, gerakan, atau perubahan. Cara membangun jaringan adalah dengan menumbuhkan kepercayaan. Pada tingkat lokal harus muncul leader of civil society agar setiap atau seluruh organisasi masyarakat sipil turut memperjuangkan tujuannya dalam menggunakan gerakan sosial. Penggerak komunitas atau wirausaha sosial memperoleh kepercayaan dari masyarakat dengan konsisten, produktif, dan menghasilkan berbagai karya positif yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas.

 

Referensi:
Hikam, Muhammad AS. 1999. Demokasi dan Civil Society. Jakarta: PT Pustaka LP3ES Indonesia

Jalal & Wahyu (2019). https://www.ukmindonesia.id/baca-artikel/202

Saiman, Marwoto, 2011, “Inovasi Metode Pembelajaran Sejarah”, Jurnal Ilmu-Ilmu Sejarah, Budaya dan Sosial.

 

===

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

1 Comment

  1. R Yugian Leonardy

    saya memulai korporasi berbasis komunitas dr 1994. dan semua ada hal yg diluar nalar harus diperhatikan. krna beragam karakter.sangat ingin berkolaborasi dalam meningkatkan nilai2 pengertian berkomunitas

Leave a Reply

Required fields are marked *

Related Posts

Gowork – Senayan City Lv. 15
Jl. Asia Afrika No. Lot. 19, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10270,
Indonesia

Email : redaksi@dutanusa.com

Informasi

Newsletter

© 2021 All rights reserved​

Made by DutaNusa Team