Trending News

Perjalanan Diplomat Muda Indonesia Oleh: Arya Daru Pangayunan (Bag. 5)

Sekolah Dinas Luar Negeri, Kemlu RI

Wisma Ahmad Soebardjo

Setelah seluruh proses administrasi penerimaanCPNS diselesaikan pada bulan Januari 2014, pada awalbulan Februari 2014, petualangan di Kemlu dimulai.

Sebelum menjadi seorang diplomat dan seorangPegawai Negeri Sipil (PNS) sepenuhnya, semua yang lolos rangkaian tes CPNS Kemlu jalur PDK harusmengikuti pendidikan Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu) dan Diklat Prajabatan PNS. Pendidikan tersebut diadakandi Pusdiklat Kemlu dan para peserta Sekdilu diasramakandi Wisma Ahmad Soebardjo yang berada satu komplekdengan Pusdiklat Kemlu di Jl. Sisingamangaraja No. 73.

Lokasi asrama sangat strategis, sangat dekat denganSenayan City, Plaza Senayan, dan Ratu Plaza, bahkandari beberapa kamar jika membuka jendela, PatungPemuda Membangun di Bundaran Senayan terlihat jelas.

Asrama para peserta Diklat Sekdilu juga dijadikansatu dengan rekan-rekan yang lolos CPNS Kemlu jalurPenata Keuangan dan Kerumahtanggaan Perwakilan(PKKRT) dan Petugas Komunikasi (PK) yang masing-masing memiliki Diklat tersendiri, namun berjalan dalamwaktu yang bersamaan dengan Diklat Sekdilu yang diikutioleh para calon PDK.

Pusdiklat Kemlu telah menentukan plotting kamar. Pembagian kamar tergantung nasib. Ada yang ditempatkan satu kamar berlima, berempat, bertiga, berdua, dan ada juga yang sendiri. Ukuran kamarpunberbeda-beda, ada yang seperti kamar hotel dengankamar mandi dalam, dan ada yang model apartemendengan dapur. Namun semua bagian asrama sudahstandar dengan AC dan koneksi wifi sehinggamemberikan kenyamanan bagi para peserta diklat.

Saya tiba di asrama pada tanggal 5 Februari 2014 dan kebetulan mendapatkan kamar dengan 2 tempat tidur, sharing dengan seorang peserta Diklat Sekdilu bernamaAndre yang baru lulus dari Fakultas Hukum, Universitas Trisakti.

 

Diklat Prajabatan PNS

Beberapa hari setelah seluruh peserta Diklatmenyesuaikan diri di asrama, diadakan Pembukaan Diklatdi Pusdiklat Kemlu. Pembukaan tersebut dihadiri oleh para pejabat Eselon I, Eselon II, dan para Duta Besar senior yang akan menjadi pembimbing selama Diklat Sekdilu.

Apa sih pejabat Eselon itu? Apa bedanya antarapejabat Eselon I, II, dan seterusnya? Pejabat Eselonadalah pejabat yang memegang posisi struktural dalamsebuah Kementerian atau Lembaga Pemerintahan.

Di Kemlu, pejabat Eselon I adalah Sekretaris Jenderal(Sekjen), Inspektur Jenderal (Irjen), Direktur Jenderal(Dirjen), Kepala Badan (Kabadan), dan Staf Ahli (Sahli). Pejabat Eselon II berada di bawah Eselon I, diantaranyaadalah Kepala Biro (Karo), Inspektur Wilayah (Irwil), Direktur, Kepala Pusat (Kapus), dan Sekretaris unit Eselon I (Ses). Pejabat Eselon III ada di bawahnya lagi, yaitu Kepala Subdirektorat (Kasubdit) dan Kepala Bagian (Kabag).

Kembali ke pembukaan Diklat di Pusdiklat Kemlu, ternyata 2 orang yang mewawancarai saya ada di barisanpejabat Eselon II dan Duta Besar. Karena penasaran, saya tanya kanan-kiri, ternyata yang mewawancarai sayaketika tes CPNS Kemlu adalah Bapak Duta BesarSoemadi Brotodiningrat yang pernah menjabat sebagaiDuta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI di Jepang tahun 1998-2002; dan Bapak Henk Saroinsongyang saat itu menjabat sebagai Direktur Sesparlu (Diklatbagi diplomat senior).

Seusai pembukaan, para peserta Diklat mengikutikegiatan outbond di daerah Bogor untuk membangunkerja sama tim diantara para peserta Diklat, termasukdengan rekan-rekan PKKRT dan PK. Sayang sekali saatitu saya tidak dapat mengikuti outbond karena sakit, demam tinggi dengan gejala tifus hingga sempat dibawake rumah sakit oleh Panitia Diklat, mungkin karenakelelahan ketika proses pindah ke asrama.

Setelah kegiatan outbond selesai, seluruh pesertaDiklat Sekdilu, PKKRT, dan PK menjalani DiklatPrajabatan PNS selama 3 minggu. Pada Diklat PrajabatanPNS ini, kami diajarkan berbagai hal mengenai ke-PNS-andari para widyaiswara, termasuk budaya kerja, jiwa korsa, anti-korupsi, dan sebagainya. Kami mendapatkan tugassetiap malam untuk merangkum modul yang kita perolehdan menulisnya di kertas folio.

Diklat Sekdilu

Setelah 3 minggu menjalani Diklat Prajabatan PNS, saya kemudian menjalani Diklat Sekdilu yang berlangsungselama lebih kurang 8 bulan. Sekdilu tahun 2014 menjadiangkatan yang ke-38 dengan 70 orang peserta dari latarbelakang yang berbeda-beda. Ada yang dari Jurusan IlmuHubungan Internasional, Ilmu Hukum, Ilmu Komunikasi, Ilmu Ekonomi, dan Sastra.

Aktivitas Diklat dilakukan dari hari Senin hinggaJumat, berupa pendidikan profesi yang dimulai pukul 8.00 hingga 16.30. Ketika akhir pekan atau tanggal merah, para peserta Diklat diperbolehkan meninggalkan asrama, sehingga selama Diklat saya beberapa kali pulang keJogja, terutama saat ada long weekend.

Di luar pendidikan profesi, selama menjalankanSekdilu, para peserta dapat mengikuti kegiatanekstrakurikuler berupa ballroom dance dan gamelan. Selain itu, selama Sekdilu, setiap bulan diadakanwidyakarya baik di dalam maupun luar Jakarta.

Beberapa hal yang diajarkan ketika Diklat Sekdiluantara lain dasar-dasar ilmu HI, etika, table manner, tata cara berpakaian, persuratan, protokol, hinggaketerampilan seperti public speaking dan negosiasi. Beberapa simulasi sidang internasional juga dipraktekkan.

Pada intinya, Diklat Sekdilu mempersiapkan para pesertanya untuk siap menghadapi dunia kerja, baik di Kemlu maupun ketika ditempatkan di Perwakilan RI di luarnegeri.

Para peserta Diklat diberi overview terkait PerwakilanRI di luar negeri yang menjadi tempat penugasan seorangdiplomat. Saat ini terdapat 132 Perwakilan RI di luarnegeri, yang terdiri dari Kedutaan Besar RepublikIndonesia (KBRI), Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI), Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI), dan Konsulat Republik Indonesia (KRI).

Apa perbedaannya? KBRI adalah Perwakilan RI yang dipimpin oleh seorang Duta Besar LBBP dan biasanyaberada di Ibukota negara akreditasi. Sedangkan KJRI dipimpin oleh seorang Konsul Jenderal dan biasanyaberada di kota-kota penting dimana memiliki jumlah WNI yang cukup signifikan atau memiliki potensi hubunganperdagangan dan investasi yang tinggi dengan Indonesia. Perbedaan lainnya adalah bahwa di KJRI tidak memilikiFungsi Politik, karena yang menangani politik adalahKBRI.

Bagaimana dengan PTRI? PTRI merupakanPerwakilan Indonesia untuk PBB yang berada di New York dan Jenewa, dipimpin oleh seorang Duta Besar yang disebut sebagai Wakil Tetap Republik Indonesia atauWatapri. Namun ada yang unik, selain 2 PTRI tersebut, Indonesia memiliki 1 PTRI lagi di Jakarta, namun bukanuntuk PBB, melainkan untuk ASEAN.

Lalu yang terakhir adalah KRI, yang merupakan KJRI dengan skala yang lebih kecil dan dipimpin oleh seorangKonsul.

Pada Diklat Sekdilu, peserta diajarkan mengenaitugas pokok seorang diplomat, yang harus benar-benardipahami oleh para calon diplomat, yaitu:

Representing: melakukan kegiatan untuk dan atasnama negara dan Pemerintah RI dalam berhubungandengan negara lain dan organisasi internasional;

Negotiating: memperjuangkan kepentingan negara dan Pemerintah RI melalui perundingan, pendekatan, dan interaksi dengan negara lain dan organisasi internasional;

Protecting:  melindungi kepentingan negara dan Pemerintah RI, termasuk warga negara Indonesia dan badan hukum Indonesia;

Promoting: melakukan kegiatan dalam rangkameningkatkan kerja sama antara Indonesia dengannegara lain dan organisasi internasional di segala bidangyang bermanfaat bagi kepentingan nasional, termasukmempromosikan budaya dan potensi ekonomi yang dimiliki oleh Indonesia;

Reporting: menyampaikan informasi hasilpelaksanaan tugas, pengamatan, dan analisis di bidangpolitik, hukum, keamanan, ekonomi, dan sosial budayadalam kerangka hubungan dengan negara lain dan organisasi internasional;

Terakhir adalah managing: melakukan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, aktualisasi, dan pengawasan sumber daya secara efektif untukpelaksanaan politik dan hubungan luar negeri Kemlu dan Perwakilan RI.

Selain itu, Diklat Sekdilu memberikan gambaran bagipara peserta Diklat bahwa jenjang karir seorang diplomat sangatlah panjang, bermula sebagai seorang Diplomat Pertama, Diplomat Muda, Diplomat Utama, dan Diplomat Madya, dengan 8 jenjang kepangkatan diplomatik yang harus dilalui sebelum mencapai puncak yaitu:

1. Atase;
2. Sekretaris III;
3. Sekretaris II;
4. Sekretaris I;
5. Counsellor;
6. Minister Counsellor;
7. Minister; dan
8. Duta Besar.

Panjang bukan? Rata-rata semua diplomat inginmencapai karir tertinggi sebagai Duta Besar. Untukmencapai hal itu, Diklat Sekdilu menjadi fondasi dasarbagi seluruh calon diplomat untuk melangkah ke jenjangkarir kedepan.

Apakah Diklat yang diikuti oleh seorang diplomat hanya Sekdilu saja? Tidak. Untuk dapat naik jenjangkepangkatan diplomatik dari Sekretaris II ke Sekretaris I, seorang diplomat harus mengikuti Sekolah Staf DinasLuar Negeri (Sesdilu); kemudian untuk naik dariCounsellor ke Minister Counsellor, seorang diplomat harusmengikuti Sekolah Staf dan Pimpinan Luar Negeri (Sesparlu).

Apakah selama Diklat sudah digaji? Tentu sudah! Tapibesarannya hanya 80% dari gaji pokok PNS, ditambahstipend sebesar Rp 500 ribu per bulan. Para pesertaDiklat benar-benar harus menahan godaan untuk tidaksering jajan ataupun belanja, mengingat lokasi Diklatberada di dekat pusat perbelanjaan mewah, sementarapemasukan yang didapat tergolong kecil. Namun para peserta Diklat memperoleh makan 3 kali sehari di asrama, jadi sebenarnya tidak ada yang patut dikeluhkan.

Taskap

Mengikuti pendidikan Sekdilu seperti kembali kebangku kuliah. Pada bulan-bulan terakhir Sekdilu, para peserta diminta untuk menyusun Kertas KerjaPerseorangan (Taskap), seperti menyusun skripsi, denganberkonsultasi dengan seorang Duta Besar senior yang menjadi pembimbing Taskap. Saya mendapat kehormatandibimbing oleh Ibu Duta Besar Artauli Tobing, Duta BesarRI untuk Vietnam periode 2004-2007. Beliau membantudalam penulisan Taskap saya berjudul “Peran SekolahIndonesia Luar Negeri dalam Peningkatan DiplomasiBudaya. Studi Kasus: Indonesian International School Yangon (IISY)”.

Saya memilih kasus itu karena merasa mudahmendapatkan bahan memanfaatkan koneksi yang sayamiliki di Myanmar dan juga pengetahuan saya mengenaiIISY, antara lain saya banyak dibantu oleh Bapak SirdjanulGhufron, Kepala Sekolah IISY saat itu, dan Joko, guru tari di IISY.

Pada intinya, isi Taskap saya menjelaskan argumenbahwa IISY dapat menjadi contoh bagi Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) yang ada di negara lain, karena IISY tidak hanya menerima murid dari kalangan WNI, namunmenjadi sebuah sekolah internasional yang menerimamurid dari kalangan WNA. Dengan pembinaan yang tepat, para WNA tersebut dapat menjadiasetbagi Indonesia. Mereka diharapkan dapat menjadiIndonesianis” yang cinta Indonesia dan akan membela kepentingan Indonesia jika kelak para murid tersebut menjadi orang yang berpengaruh di negara mereka masing-masing. Menurutsaya, ini adalah sebuah bentuk diplomasi publik yang sangat efektif.

Taskap-pun kemudian diuji, layaknya pengujianskripsi. Saya diuji oleh 3 orang, yaitu Dubes Pembimbing, Direktur Sekdilu, dan 1 orang dari kalangan akademisi. Ujian Taskap berjalan lancar dan bisa dibilang tidak adadrama pada pengujian Taskap saya.

Hasil penilaian Taskap berpengaruh pada ranking di Sekdilu. Ya, Sekdilu ada rankingnya. Walaupun saya tidakmendapatkan ranking yang begitu tinggi, saya menghiburdiri dengan berpikir bahwa tetap saja saya berada di peringkat 70 besar dari sekian ribu orang yang mendaftarsebagai CPNS di Kemlu. Banyak sekali rekan seangkatandi Sekdilu, khususnya para fresh graduates yang masihsangat ambisius untuk memperoleh nilai tinggi dan inginterlihat menonjol selama Diklat.

Seusai Diklat Sekdilu, para peserta Diklat diwajibkanmengikuti program magang sebanyak 2 kali. Magangpertama dilakukan di dalam negeri, yaitu di unit Eselon II Kementerian Luar Negeri, dan magang kedua di Perwakilan RI di luar negeri yang tempatnya ditentukanoleh Direktur Sekdilu.

Di dalam negeri, saya berkesempatan untuk magangdi Sekretariat Direktorat Jenderal (Setditjen) Protokol dan Konsuler (Protkons) dan di luar negeri saya mendapatkankesempatan magang di KJRI Perth.

Setditjen Protkons

Setditjen Protkons menjadi tempat magang pertamasaya sebelum lanjut magang di KJRI Perth. Saya bersyukur ditempatkan di Setditjen Protkons yang telahmembukakan mata saya, bahwa unsur administrasimerupakan hal yang sangat penting di sebuahKementerian.

Tugas Setditjen Protkons adalah memberikandukungan administrasi kepada seluruh unsur organisasi di Direktorat Jenderal Protokol dan Konsuler, yaitu di Direktorat Protokol, Direktorat Konsuler, Direkorat FasilitasDiplomatik, dan Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) dan Badan Hukum Indonesia (BHI).

Selama magang di Setditjen Protkons, sayamempelajari mengenai korespondensi diplomatik, pengelolaan keuangan, serta monitoring dan evaluasilaporan keuangan.

Magang di Setditjen Protkons memberikan bayangankepada saya bagaimana kehidupan saya 3 tahun kedepan sebagai pegawai Kementerian Luar Negeri yang sebenarnya.

Para peserta magangwalaupun lebih banyakmengamati, bekerja layaknya pegawai yang lain, dilibatkan dalam rapat mingguan dengan Bapak Sesditjen, yang saat itu dijabat oleh Bapak Ade Sukendar, hinggadiikutkan dalam perjalanan dinas ke Bogor untukmelakukan monitoring dan evaluasi laporan keuangan.

Pada saat magang ini saya mengenal lebih dalamdengan yang namanya disposisi. Selama kita bekerjasebagai PNS kita akan selalu berkutat dengan yang namanya lembar disposisi. Apakah disposisi itu? Lembar disposisi adalah lembaran berisi instruksi dari atasan. Isi instruksi bisa macam-macam, mulai dari sekedaruntukdiketahui” dan “file”, hinggauntuk diselesaikanatausiapkan jawaban”, dan terkadang atasan akanmemberikan catatan mengenai apa yang harus kitalakukan secara spesifik.

Jadi, sebagian besar pekerjaan yang dilakukansehari-hari sebagai diplomat adalah berdasarkan disposisiyang diberikan oleh atasan. Pejabat Eselon I dapatmemberikan disposisi kepada pejabat Eselon II, dan pejabat Eselon II bisa menurunkannya ke Eselon III ataustaf dibawahnya. Di Perwakilan RI di luar negeri juga tidakakan terlalu berbeda dimana para diplomat akan bekerjaberdasarkan disposisi yang diturunkan dari KepalaPerwakilannya.

Selama magang di dalam negeri, kami masihdiperbolehkan untuk menginap di Wisma Ahmad Soebardjo. Setiap hari kami menggunakan bus Kemluuntuk berangkat dari Senayan ke Pejambon.

Kalau boleh jujur, saya agak kurang fokus ketikamagang di Setditjen Protkons karena pikiran saya sudahmelayang”, membayangkan tugas saya berikutnya, yaitumagang di KJRI Perth. Setiap waktu istirahat saya selalubrowsing bagaimana kehidupan di kota Perth agar tidakterlaluudiksetibanya disana. Saya yakin rekan-rekansaya yang lainpun demikian.

Jauh-jauh hari sebelum berangkat ke Perth sayasudah komunikasi dengan senior-senior yang sedangpenempatan di KJRI Perth, untuk mencari informasi dan mempersiapkan diri, serta menanyakan apakah ada titipanatau oleh-oleh yang dapat saya bawa dari Jakarta.(Bersambung)

Arya Daru Pangayunan adalah Sekretaris Ketiga FungsiPolitik di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Dili (2018-2020); dan Sekretaris Ketiga Fungsi Ekonomi, Sosial, dan Budaya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Buenos Aires (2020-sekarang).

Perjalanan Diplomat Muda Indonesia Oleh: Arya Daru Pangayunan (Bag. 4)

Perjalanan Diplomat Muda Indonesia Oleh: Arya Daru Pangayunan (Bag. 3)

Perjalanan Diplomat Muda Indonesia Oleh: Arya Daru Pangayunan (Bag. 2)

Perjalanan Diplomat Muda Indonesia Oleh: Arya Daru Pangayunan (Bag. 1)

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Leave a Reply

Required fields are marked *

Related Posts

Gowork – Senayan City Lv. 15
Jl. Asia Afrika No. Lot. 19, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10270,
Indonesia

Email : redaksi@dutanusa.com

Informasi

Newsletter

© 2021 All rights reserved​

Made by DutaNusa Team