Trending News

Menyongsong Bali Democracy Forum – BDF (Bagian 3)

(Diangkat dari “Buku Diplomasi Publik, Catatan, Inspirasi dan Harapan” – 2018
Oleh Al Busyra Basnur)

“Hai… Mbak Ima, selamat datang di Kementerian Luar Negeri. Senang sekali kita bertemu kembali,” ucap saya menyambut Rahimah Ibdulrahim, Direktur Eksekutif The Habibie Center sesaat setelah Ima – demikian panggilan akrabnya – dan beberapa orang temannya, peserta AsiaGlobal Fellows Program, keluar dari lift di lantai 12 gedung utama Kemlu. Program tersebut diikuti oleh mid-career individu yang bersifat multidisipliner, seperti pembuat kebijakan, wirausaha, dan masyarakat madani yang mengeksplorasi isu-isu kritis yang berkembang di dunia. Peserta berada di Indonesia dalam rangkaian kunjungan ke beberapa negara Asia.
“Hai juga, Pak Al. Thanks. Iya, senang kita bertemu lagi. Padahal baru beberapa hari yang lalu kita bersama-sama di Tunis,” balas Ima, sahabat lama saya itu.
Memang seminggu sebelumnya, tanggal 2 Oktober 2017, kami berada di Tunis dalam acara Bali Democracy Forum (BDF) Chapter Tunis yang dibuka oleh Menteri Luar Negeri Tunis, Khemaies Jhinaoui. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno L.P. Marsudi yang baru saja selesai menghadiri berbagai kegiatan penting di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) New York, menyampaikan keynote speech pada forum tersebut.
“Demokrasi selayaknya tidak dimajukan melalui pressure serta shaming and naming, sehingga semua pihak bisa saling belajar. Tidak ada formula tunggal bagi keberhasilan penerapan demokrasi. Nilai demokrasi bersifat universal, namun model demokrasi tidaklah one size fits all, melainkan perlu ada konteks lokalnya,” kata Ibu Retno antara lain di dalam pidato kuncinya.

Dibagian lain, Ibu Retno menyampaikan harapan agar BDF Chapter Tunis tersebut dapat membantu menginspirasikan institusionalisasi demokrasi di Afrika Utara. Bahkan BDF di Tunis tersebut diharapkan juga memberi nilai tambah bagi BDF ke-10 yang diselenggarakan, tanggal 7-8 Desember 2017.
Hadir sebagai pembicara dan moderator pada BDF Chapter Tunis itu, antara lain Profesor Azyumardi Azra, CBE, Gurubesar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Rahimah Abdulrahim, Direktur Eksekutif The Habibie Center; dan Dr. Siswo Pramono, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri. Semua dari Indonesia. Hadir dari kawasan itu adalah Mohamed Ridha Ben Hammed (Tunisia), Boumediene Guennad (Aljazair), Hedi Benachour (Tunisia), Dr. Emad A Assayh (Libya), dan Ahmed Chaouqui Benyoub (Maroko).
Selain menghadiri BDF Chapter Tunis, pada saat kunjungan yang sama, Menlu RI, Ibu Retno juga memimpin delegasi Indonesia dalam Pertemuan ke-10 Komisi Bersama Indonesia-Tunisia, kunjungan kehormatan kepada Perdana Menteri Tunisia Y.M. Youssef Chahed dan Presiden Tunisia Y.M. Beji Caid Essebsi, serta mengadakan rapat koordinasi dengan Duta Besar RI di negara-negara kawasan Afrika Utara, didampingi oleh Sekretaris Jenderal Kemlu, Duta Besar Mayerfas. Rapat koordinasi dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Tunis, Prof. Dr. Ikrar Nusa Bakti; Duta Besar RI untuk Maroko, Endang Dwi Syarief Syamsuri; Duta Besar RI untuk Libya, Raudin Anwar; Duta Besar RI untuk Mesir, Helmy Fauzy; Duta Besar RI untuk Aljazair Safira Muchrusah, dan Duta Besar RI di Khartoum, Burhanuddin Badruzzaman.
Usai acara BDF Chapter Tunis itu, Kemlu menyelenggarakan Bilateral Inter-Media Dialogue Indonesia-Tunisia (BIMD-IT). Dialog ini pertama kali diselenggarakan oleh kedua negara. Narasumber dari Indonesia adalah Bapak Trias Kuncahyono (Kompas) dan Ibu Jati Savitri (Metro TV). Sementara itu, pembicara dari pihak Tunisia adalah Najeh Missaoui (TV1 Tunisia) dan Mouna Mtibaa (Tunis Afrique Presse).
Setelah mengikuti beberapa rangkaian kegiatan di Tunis, Menlu RI, Ibu Retno melanjutkan kunjungan kerja ke Yordania. Di Yordania, Menlu RI melaksanakan serangkaian kegiatan antara lain kunjungan kehormatan kepada Raja Yordania, Abdullah II bin Hussein, pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Yordania dan menyampaikan pidato kunci pada seminar “Sharing Experiences of Regional Security and Business Connectivity between East Asia and West Asia” yang diselenggarakan Kemlu RI, Majelis el-Hassan, dan Humanitarian Dialogue Cender (HDC).
Kembali ke lantai 12 gedung Kemlu, setelah mengucap selamat datang dan berbincang-bincang sejenak dengan Ibu Ima dan peserta AsiaGlobal Fellows Program lainnya di depan lift, saya mempersilakan para tamu terhormat Kemlu itu memasuki ruangan pertemuan. Peserta diterima oleh Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik (IDP), Bapak Cecep Herawan, yang belum lama dilantik sebagai Direktur Jenderal. Sebelumnya beliau bertugas sebagai Wakil Duta Besar RI di Seoul, Korea Selatan.
Pada pertemuan dengan peserta program Asia Global itu, Direktur Jenderal Cecep Herawan memaparkan berbagai perkembangan terkini tentang Indonesia, prioritas kebijakan luar negeri Indonesia dan diplomasi Indonesia baik pada tataran regional maupun global.
Setelah acara pertemuan, dan saya kembali ke ruangan kerja, seorang mahasiswi yang bekerja magang di Direktorat Diplomasi Publik, datang ke ruangan saya.

“Pak, tadi saya mendengar Pak Dirjen IDP juga berbicara tentang Bali Democracy Forum yang diselenggarakan pada bulan Desember 2017. Kegiatan apa itu, Pak? Saya ingin mengetahuinya,” tanya Bintang, mahasiswa kerja magang itu. Bintang memang ikut bertugas di dalam ruangan saat Dirjen Cecep menerima peserta AsiaGlobal Fellows Program.
“Silakan duduk, Bintang,” saya mempersilakan Bintang duduk, sebelum menjelaskan Bali Democracy Forum (BDF) kepadanya.
Saya segera memanggil Wahono.
“Wahono, ini ada beberapa surat dan nota yang sudah saya tandatangani. Tolong segera diproses lanjut ya,” kata saya kepada Wahono sambil menyerahkan beberapa map berisi dokumen.
“Baik, Pak,” jawab Wahono setelah mengambil map itu dari saya dan berlalu.
“Bintang, tanggal 7 dan 8 Desember 2017, diselenggarakan Bali Democracy Forum, atau BDF, untuk ke sepuluh kalinya.”
“Jadi sudah sepuluh kali ya, Pak.”
“Iya. BDF telah diakui dan diterima sebagai ruang diskusi yang nyaman bagi negara-negara di kawasan Asia Pasifik untuk berbagi pengalaman dan best practices dalam menjalankan demokrasi di masing-masing negara. Posisi strategis BDF dalam diskursus demokrasi di forum internasional telah semakin diakui, antara lain ditunjukkan oleh tingkat kehadiran dan representasi yang tinggi.”
“Jadi BDF ini juga untuk dunia ya, Pak?”
“Betul sekali Bintang. Forum ini merupakan bentuk komitmen kuat Indonesia untuk mempromosikan demokrasi bukan hanya di kawasan Asia Pasifik tetapi juga di dunia. Pemajuan nilai-nilai demokrasi di kawasan Asia Pasifik terus berkembang. Begitu juga dengan kawasan lain. Namun sangat disayangkan, ancaman radikalisme, ekstrimisme, dan terorisme di dunia saat ini dapat menghancurkan progress demokratisasi dan stabilitas politik dan keamanan. Hal ini mendorong Indonesia untuk tetap memandang penting memajukan nilai-nilai demokrasi melalui Forum BDF.”
“Siapa saja yang hadir?” Bintang terlihat antusias.
“Forum ini adalah pertemuan tingkat Menteri. Jadi yang diundang Menlu RI, Ibu Retno adalah para Menteri negara sahabat dan beberapa pimpinan Organisasi Internasional. Lebih 130 negara dan organisasi internasional yang diundang, baik di Asia Pasifik maupun di luar kawasan itu.”
“Temanya, Pak?”
“Does Democracy Deliver?”
“Kenapa temanya itu, Pak?”
“Bila diperhatikan ke belakang, tema BDF pertama sampai BDF ke sepuluh ini,
ada benang merahnya. Saatnya sekarang kita melihat hasil-hasil nyata dari penyelenggaraan demokrasi bagi kemajuan, perdamaian dan kesejahteraan bangsa dan negara. Kita ingin memastikan, apakah demokrasi betul-betul memberi manfaat untuk semua.“
“Nah, BDF tahun ini kan untuk yang ke sepuluh kali diselenggarakan, Pak. Apakah ada sesuatu yang berbeda dibandingkan dengan BDF tahun-tahun sebelumnya?”
“Bagus sekali pertanyaanmu Bintang.”
Bintang tersenyum. Terlihat ia agak tersipu. “Ya, kepingin tahu saja sih, Pak,” jawabnya.

“Ada beberapa agenda dan kegiatan baru yang menandai penyelenggaraan BDF ke-10. Pertama, Indonesia dengan Tunisia menyelenggarakan BDF Chapter Tunis tanggal 2 Oktober 2017, mendahului BDF ke-10. Ini pertama kali BDF diselenggarakan di luar Indonesia.”
“Yang kedua, Pak?”
“Tunggu dulu Bintang, ada lagi yang mau saya sampaikan tentang BDF Chapter Tunis ini.”
“Oh, maaf Pak. Saya kira sudah selesai,” Bintang tersenyum.
“BDF Chapter Tunis ini ternyata mendapat sambutan yang luar biasa dari para peserta. Pembicaranya tidak hanya dari Indonesia dan Tunisia, juga dari beberapa negara di kawasan Afrika Utara.”
Bintang mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Nah, yang kedua. Pada saat bersamaan dengan BDF ke-10, juga diselenggarakan Bali Democracy Students Conference, disingkat BDSC.”
“Konferensi apa itu, Pak?”
“Konferensi anak muda, khususnya mahasiswa. BDSC bertujuan untuk mendorong dan menumbuh-kembangkan semangat, serta mempromosikan nilai-nilai demokrasi kepada kalangan generasi muda, khususnya para mahasiswa baik di dalam maupun di luar negeri.”
“Pesertanya?”
“Lebih dari seratus orang, yang terdiri dari mahasiswa Indonesia dan mahasiswa dari negara-negara sahabat.”
“Apa yang akan mereka bahas dalam konferensi itu, Pak?”
“Banyak hal, terutama yang berkaitan dengan pemikiran, pandangan, sikap, komitmen, dan peranan pemuda dalam memajukan demokrasi.”
“Apakah juga ada tema konferensi itu, Pak?”
“O, iya. Ada Bintang. Temanya adalah From Campus for Democracy.”
“Wah, menarik sekali temanya, Pak. Memang, demokrasi tentu juga harus
dikembangkan oleh mahasiswa, terutama dari lingkungan terdekat mereka, yaitu kampus tempat mereka belajar. Untuk menjadi peserta, tentu tidak mudah ya, Pak? Pasti melalui seleksi.”
“Tentu, Bintang. Ada tim khusus yang bertugas menyeleksi calon peserta.”
Setelah saya menjelaskan berbagai hal lainnya tentang BDF ke-10, Bintang pamit kepada saya. Ia terlihat terburu-buru meninggalkan ruangan saya karena harus mendampingi salah seorang pejabat di Direktorat Diplomasi Publik untuk menghadiri rapat di luar kantor. (Bersambung)

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Leave a Reply

Required fields are marked *

Related Posts

Gowork – Senayan City Lv. 15
Jl. Asia Afrika No. Lot. 19, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10270,
Indonesia

Email : redaksi@dutanusa.com

Informasi

Newsletter

© 2021 All rights reserved​

Made by DutaNusa Team