Trending News

Pindah Tugas di Masa Pandemi, Perjalanan dari Dili ke Yogyakarta (Bag. 1)

Oleh Arya Daru Pangayunan
Sekretaris Ketiga Fungsi Ekonomi, Sosial, dan Budaya
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), Buenos Aires, Argentina.

Pandemi COVID-19 berdampak sangat besar terhadap kehidupan banyak orang di dunia. Banyak rencana yang tertunda, berubah, bahkan batal karena pandemi ini. Salah satu bidang yang terdampak paling besar adalah travel. Pandemi ini mengakibatkan dibatalkannya banyak sekali rute penerbangan, hingga penutupan bandara, tidak terkecuali di Dili, Timor-Leste.

Sejak bulan Maret 2020 ketika Timor-Leste mengumumkan adanya kasus positif COVID-19 di negara tersebut, Timor-Leste menerapkan status darurat dan menutup akses penerbangan rutin ke Dili, dan hingga artikel ini ditulispun belum juga dibuka.

Akibat dari kondisi tersebut, kami yang pada bulan Agustus 2020 telah menyelesaikan masa tugas di Dili cukup direpotkan. Kami bersama istri dan 2 orang anak (8 tahun dan 5 tahun) harus segera meninggalkan Dili, padahal belum ada penerbangan dari Dili.

Dalam situasi normal, perjalanan dari Dili ke kampung halaman kami di Yogyakarta cukup mudah, dengan melakukan penerbangan dari Dili ke Bali, transit sesaat di Bali, dan langsung melanjutkan penerbangan ke Yogyakarta di hari yang sama. Namun, dengan tidak adanya penerbangan dari Dili ke Bali di masa pandemi ini mengharuskan kami untuk menempuh perjalanan darat dari Dili ke Kupang, baru kemudian melakukan penerbangan ke Bali, kemudian Yogyakarta.

Sebelum berangkat, kami membekali diri dengan surat bebas COVID-19, dengan melakukan tes PCR di Laboratorium Nasional Timor-Leste. Hebatnya, Timor-Leste tidak mengenakan biaya untuk melakukan tes PCR. Setelah 3 hari, hasil tes PCR dapat diambil dan kami siap untuk melakukan perjalanan ke Yogyakarta.

Kami berangkat dari Dili pukul 7.30 pagi menggunakan mobil kantor kami, sebuah Land Cruiser Prado. Etape pertama perjalanan kami adalah dari Dili menuju PLBN Mota’ain yang memakan waktu 2 jam 30 menit. Kami menyusuri Pantai Utara Pulau Timor dengan pemandangan laut yang indah, namun sangat disayangkan kondisi jalannya kurang baik. Bahkan di beberapa segmen sangat rusak dan berpasir, sehingga hanya layak dilalui kendaraan yang memiliki ground clearance yang tinggi.

Pemandangan Indah Dili – Mota’ain, namun dengan Jalanan Rusak

Setibanya di perbatasan, paspor kami dicap di pelayanan imigrasi di Batugade (sisi Timor-Leste), baru kemudian kita dapat melintas ke wilayah Indonesia. Sebelum paspor kami dicap di PLBN Mota’ain, hasil tes PCR kami diperiksa oleh petugas kesehatan dan kami diminta untuk mengisi Kartu Kewaspadaan Kesehatan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan. Kami wajib mengisi data diri seperti nama, umur, alamat rumah, tempat asal bepergian, data kendaraan, dan riwayat sakit di dalam kartu tersebut.

Barang di mobil kami yang dari Dili kami pindahkan ke mobil sewaan yang sudah kami pesan yang sudah siap di dekat gerbang perbatasan di PLBN Mota’ain. Kami menyewa sebuah Innova Reborn dari Timor Travel dengan biaya Rp 1.500.000 untuk membawa kami dari PLBN Mota’ain menuju Kupang dengan perjalanan yang memakan waktu sekitar 6 jam. Untuk berjaga-jaga, kami telah mempersiapkan satu kaleng aerosol disinfektan untuk disemprotkan pada mobil sewaan sebelum kami masuk mobil.

Kami sempat singgah di Atambua untuk membeli makan siang untuk dimakan di jalan. Kondisi jalan dari Atambua hingga Kupang cukup baik namun berkelok-kelok. Bagi yang tidak tahan pasti akan mabuk darat, seperti yang dialami istri kami. Berbeda dengan anak-anak kami yang seringkali berteriak girang layaknya sedang naik rollercoaster. Bagi kami ini adalah etape perjalanan yang secara fisik paling melelahkan. Sebenarnya ada penerbangan rute Atambua – Kupang, namun di masa pandemi ini jadwalnya tidak menentu, dan kalaupun ada, kami harus menginap di Atambua karena waktu penerbangan di pagi hari, sedangkan waktu buka PLBN sedikit lebih siang sehingga kami memutuskan untuk melakukan perjalanan darat hingga ke Kupang.

Kami tiba di Kupang sebelum matahari terbenam dan langsung check in di Hotel Aston Kupang yang memiliki pemandangan yang sangat bagus karena letaknya di dekat pantai. Kami menghindari untuk keluar hotel jika tidak terpaksa sehingga kami memesan room service untuk makan malam kami. Keesokan paginya ketika sarapan, kami cukup terkejut karena suasananya cukup ramai. Tingkat okupansi Hotel Aston Kupang cukup tinggi meski di masa pandemi. Rupanya sudah terdapat instansi yang mulai berani mengadakan event yang mampu mendatangkan banyak tamu di hotel tersebut. Menu sarapan prasmananpun tergolong lengkap dan tidak terasa seperti sedang berada di masa pademi. (Bersambung)

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Leave a Reply

Required fields are marked *

Related Posts

Gowork – Senayan City Lv. 15
Jl. Asia Afrika No. Lot. 19, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10270,
Indonesia

Email : redaksi@dutanusa.com

Informasi

Newsletter

© 2021 All rights reserved​

Made by DutaNusa Team