Trending News

Perjalanan Diplomat Muda Indonesia Oleh: Arya Daru Pangayunan (Bag. 2)

Batu Loncatan

Wall Street Institute

            Walaupun disibukkan dengan kursus fotografi dan hunting foto, saya semakin desperate untuk mendapatkan pekerjaan. Alasan kuat saya adalah agar bisa segera menikah dengan Pita.

            Saya menghadiri semua job fair dan mendaftar setiap lowongan pekerjaan dimana saya memenuhi kriteria, termasuk management trainee di berbagai bank dan perusahaan multinasional, namun tidak ada yang lolos.

            Hingga suatu hari ketika sedang “apel” ke rumah Pita, Pita menunjukkan iklan lowongan pekerjaan di koran, yang menyebutkan bahwa Wall Street Institute (WSI), sebuah lembaga kursus Bahasa Inggris di Jakarta membutuhkan tutor Bahasa Inggris. Saat itu saya sudah dalam tahap “siap melakukan pekerjaan apapun dengan gaji berapapun” karena sudah benar-benar desperate. Sayapun langsung mengirimkan lamaran dan dalam waktu yang tidak terlalu lama saya diminta untuk melakukan wawancara di Jakarta.

            Sayapun berangkat ke Jakarta dan menginap di rumah Bude Sri, kakak kandung Ibu saya di daerah Pondok Pinang. Sejak kecil, setiap kali ke Jakarta pasti saya menginap di rumah Bude. Rumah Bude bagi saya seperti rumah kedua saya.

            Proses wawancara cukup cepat dan straight forward,bertempat di kantor pusat WSI di Menara Ratu Plaza. Setelah wawancara di bagian HRD, saya diminta mengerjakan tes Bahasa Inggris, lalu wawancara dengan manajerWSI Ratu Plaza bernama Patrick. Saya tidak mempedulikan berapa gaji yang akan saya dapatkan, yang penting saya memiliki pekerjaan.

            Melihat niat dan antusiasme saya untuk bekerja – dan kemampuan Bahasa Inggris yang cukup baik tentunya, oleh Patrick saya langsung diberi pilihan untuk bekerja di salah satu center WSI, antara WSI Pondok Indah Mall (PIM), WSI Ratu Plaza, atau WSI La Piazza Kelapa Gading.

            Dalam beberapa detik saya berpikir, jiwa adventur saya muncul, dan memutuskan memilih untuk ditempatkan di WSI La Piazza Kelapa Gading dengan alasan bahwa saya menginginkan untuk explore tempat baru. Saya sudah sering lewat PIM dan Ratu Plaza, dan justru sama sekali buta dengan La Piazza. Saya anggap bekerja di Kelapa Gading akan menjadi sebuah tantangan yang menarik.

            Sayapun langsung diminta melakukan wawancara dengan manajerWSI La Piazza Kelapa Gading bernama Sarah di hari berikutnya. Karena penggunaan GPS belum lazim, saya mempelajari peta Jakarta untuk menemukan jalan menuju La Piazza Kelapa Gading. Saya dipinjami mobil Bude, sebuah Kijang Super tahun 1995. Saya berangkat beberapa jam sebelum jadwal wawancara karena takut terkena macet, terlebih karena jarak rumah Bude di daerah Pondok Pinang menuju Kelapa Gading cukup jauh. Untung saya berangkat awal dan berhasil tiba satu jam sebelum waktu wawancara.

            Wawancara berjalan lancar, terlebih lagi saya sudah mendapatkan rekomendasi dari bagian HRD dan juga Patrick, manajer dari WSI Ratu Plaza. Sayapun diterima sebagai tutor Bahasa Inggris di WSI La Piazza Kelapa Gading.

            Ketika ditanya kapan siap untuk mulai bekerja, saya menjelaskan bahwa saya merantau dan membutuhkan tempat kos di dekat tempat kerja sebelum dapat mulai bekerja. Saya terkejut ketika Sarah seketika itu menelpon bagian HRD WSI untuk membantu saya mencarikan tempat kos di daerah Kelapa Gading agar saya dapat segera mulai aktif bekerja.

            Saya disediakan sopir dan didampingi oleh seseorang dari bagian HRD WSI untuk mencari tempat kos. Tidak sampai setengah hari berputar-putar di daerah Kelapa Gading, saya mendapatkan kos yang cukup layak di Jalan Pelepah Indah II dengan biaya sewa Rp 800 ribu per bulan, yang hanya membutuhkan waktu 5 menit jalan kaki menuju WSI La Piazza Kelapa Gading. Kamar kos yang saya dapatkan kecil, mungkin hanya 2,5 x 2 meter, dengan AC, namun tanpa jendela, dan tanpa kamar mandi di dalam kamar. Tapi di kos ada orang yang membantu membersihkan kamar dan mencuci pakaian sehingga saya tidak direpotkan urusan cuci-jemur-setrika.

            Sebagai anak tunggal yang sangat dekat dengan kedua orang tua saya, ini pertama kalinya saya hidup terpisah dari orang tua dan jauh dari siapa-siapa. Saya selalu berkata pada diri saya sendiri bahwa saya kuat dan saya bisa hidup dengan kondisi seperti ini. Saya justru memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar mandiri, bagaimana mengatur pengeluaran, mengatur makan, apa yang harus dilakukan jika sakit, dan intinya bagaimana bisa survive hidup sendiri tanpa orang tua.

Selain itu, sisi positif kos di daerah Kelapa Gading adalah bahwa saya dapat mengenal daerah Jakarta Utara yang selama ini belum pernah saya jelajahi.

            Masuk kerja hari pertama, rasanya cukup nerve wrecking, takut berbuat salah, takut tidak bisa bekerja sesuai harapan. Tapi perasaan itu cepat hilang ketika berkenalan dengan rekan-rekan kerja yang sudah cukup lama bekerja disana, seperti Merry, Riama, Angel, Eva, dan Mia yang semuanya sangat ramah dan helpful – tidak ada budaya “senior-junior” dan semua bekerja secara kompak dan saling mendukung. Saya menjadi satu-satunya tutor laki-laki di center itu. Merry menjadi mentor saya yang mengajari saya semua hal mengenai seluk beluk pekerjaan sebagai tutor Bahasa Inggris di WSI.

            Baru satu minggu bekerja, saya diberikan excellence training selama 5 hari di WSI Ratu Plaza bersama para pegawai baru yang lain, termasuk dari WSI PIM dan Ratu Plaza. Selain mendapatkan pelatihan pengajaran Bahasa Inggris, kami diberikan training mengenai pemberian servis terbaik bagi para students. Tidak hanya ilmu dan keterampilan yang didapat, namun juga banyak teman baru.

            Suasana kerja di WSI sangat menyenangkan, banyak kesempatan untuk berkenalan dengan orang-orang baru, students dari berbagai latar belakang dan usia, mengajarkan Bahasa Inggris kepada orang-orang dari level yang berbeda-beda yang mengharuskan saya untuk beradaptasi dan menyesuaikan gaya mengajar saya. Ada yang benar-benar mulai dari nol, banyak pula yang sudah advanced yang justru semakin mengasah kemampuan Bahasa Inggris saya.

Tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kemlu 2010

            Bagaimana dengan cita-cita untuk menjadi diplomat? Apakah masih tetap ada? Tidak. Di titik ini saya tidak lagi memiliki ambisi untuk menjadi diplomat dan sudah nyaman dengan pekerjaan saya sebagai tutor Bahasa Inggris. Namun kali ini justru Pita, calon istri saya, yang memiliki keinginan besar agar saya dapat menjadi diplomat. Menuruti kemauan Pita, saya sempat mendaftar CPNS Kemlu 2010 di bulan September 2010. Saya mendaftar sebagai calon Pejabat Diplomatik dan Konsuler (PDK). Kemlu juga membuka pendaftaran bagi para calon Penata Keuangan dan Kerumahtanggaan Perwakilan (PKKRT) dari latar belakang ekonomi/akuntansi, serta Petugas Komunikasi (PK) bagi yang memiliki latar belakang ilmu komputer/IT.

            Tanpa niat dan kepercayaan diri tentu tidak akan membuahkan hasil. Benar saja, saya langsung gagal di tes CPNS Kemlu tahap awal yang diikuti oleh lebih dari 10 ribu orang di arena Pekan Raya Jakarta di Kemayoran.

Local Staff

            Walaupun gagal pada tes CPNS Kemlu, saya tetap semangat menjalankan pekerjaan saya sebagai tutor Bahasa Inggris di WSI. Namun, setelah kegagalan itu, saya memikirkan Pita. Tentunya saya ingin membuat bangga calon istri saya. Saat itu saya berpikir, walaupun bukan sebagai diplomat, saya berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi dari sekedar menjadi seorang tutor Bahasa Inggris.

            Harapan itu muncul pada bulan Desember 2010, ketika Merry, mentor saya, menyatakan akan resign dari WSI.

            “Seriusan Mer, lo mau resign?”

            “Iya Ru, gue mau ke Kanada.”

            “Eh buset, enak banget Mer… Mau sekolah?”

            “Engga Ru, gue ketrima jadi Local Staff di KBRI Ottawa.”

            “Apa pula itu Local Staff?” saya bertanya dalam hati.

            Namun sebelum sempat menanyakan langsung, Merry langsung menjelaskan, “Jadi, Local Staff nanti tu yang bakal ngebantu para diplomat di KBRI Ru. Ada yang ditempatin di Fungsi Politik, Ekonomi, Protokol Konsuler, Penerangan Sosial Budaya (Pensosbud), bagian komunikasi, keuangan, ada yang jadi sekretaris Dubes, dan ada juga yang jadi sopir.”

            Kenapa dinamakan Local Staff (LS)? Jadi sebenarnya LSitu awal mulanya adalah pegawai yang direkrut secara lokal oleh Perwakilan Republik Indonesia (RI) di luar negeri, bisa dari kalangan Warga Negara Indonesia maupun Warga Negara Asing. LS bekerja berdasarkan kontrak, dan diharapkan bakal tinggal dalam waktu yang lama di negara tempat Perwakilan RI tersebut berada. Tugas utama para LS adalah untuk membantu para Home Staff (HS).

Nah, siapa yang termasuk sebagai HS? HS adalah para pegawai dari Pusat yang sedang ditempatkan di Perwakilan RI di luar negeri, biasanya terdiri dari para PDK atau yang lebih dikenal dengan sebutan diplomat, ada pula PKKRT dan PK, serta Atase Teknis dari Kementerian/Lembaga selain Kemlu – seperti Atase Pertahanan, Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Atase Imigrasi, Atase Perdagangan, dan sebagainya.

Untuk menjadi diplomat tentu harus mengikuti seleksi CPNS Kemlu, sedangkan untuk menjadi LS melalui mekanisme yang berbeda. Semula LS direkrut langsung dari Perwakilan RI di luar negeri, namun pada perkembangannya LS juga direkrut dari Pusat (Kemlu).

            “Wah, Ottawa ya Mer? Gimana caranya?”

            Merry lalu menjelaskan cara pendaftaran sebagai LS, yaitu dengan mengirimkan berkas lamaran, CV, cover letter, fotokopi ijazah dan transkrip ke Biro Kepegawaian Kemlu – yang bisa dikirimkan kapan saja, walaupun tidak ada lowongan secara terbuka.

            “Tapi belom tentu juga lo dapet negara ato kota yang lo pengen Ru. Kebetulan aja gue dapet Ottawa. Barengan gue tes ada yang ke Roma dan ada juga yang ke Bern.”

            “Wah, enak banget ya Mer…”

            Langsung hari itu juga saya membuat dan mengirimkan lamaran saya sebagai LS.

            Tidak lama setelah itu Merry berangkat ke Ottawa.

Cuti Nikah untuk Tes LS

            Setelah sekitar 10 bulan bekerja di WSI, saya mengambil cuti nikah. Saya dengan Pita akhirnya menikah, tepatnya pada tanggal 29 Januari 2011 dengan resepsi yang diadakan di Gedung Grha Sabha Permana, UGM, gedung tempat kami diwisuda di Jogja.

            Kami berbulan madu di Bali selama seminggu. Ketika kembali ke Jogja setelah bulan madu, tiba-tiba saya mendapat telpon dari Biro Kepegawaian Kemlu.

             “Dengan Bapak Arya Daru Pangayunan? Kami menerima berkas lamaran Bapak sebagai Local Staff dan besok kami akan mengadakan tes seleksi.”

            Sebenarnya cuti saya masih satu minggu lagi dan saya seharusnya masih bisa bersantai di Jogja. Namun karena tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menjadi LS, saya terbang ke Jakarta untuk mengikuti tes.

            Tes LS dilakukan di Biro Kepegawaian Kemlu di lantai 6 Gedung Utama, Kemlu, Pejambon. Ketika itu saya melakukan tes bersama sekitar 30 orang lainnya. Saya yang sudah pernah merasakan tes CPNS Kemlu di tahun 2010 merasa sangat mudah ketika melakukan tes LS dengan model soal yang hampir serupa. Peserta tes LS diminta mengerjakan soal-soal dengan substansi yang hampir sama dengan tes CPNS Kemlu 2010, kemudian mengerjakan soal-soal Bahasa Inggris, lalu ujian praktek menggunakan komputer – menyalin artikel di MS Word, membuat presentasi di MS Power Point, dan mengolah data di MS Excel. Jika lolos rangkaian tes tersebut, akan dipanggil kembali untuk tes wawancara.

            Tanpa berharap apapun dari hasil tes LS itu, saya kembali aktif bekerja di WSI. Istri turut serta ke Jakarta untuk tinggal bersama di kamar kos kecil saya di Kelapa Gading.

            Tidak disangka, baru beberapa minggu berselang, saya kembali ditelpon Biro Kepegawaian Kemlu. Kali ini saya diminta untuk datang tes wawancara. Beruntung jadwal kerja saya cukup fleksibel dan saya dapat bertukar shift dengan rekan kerja saya untuk dapat melakukan wawancara.

            Saya diwawancarai oleh 2 orang diplomat dari Biro Kepegawaian, Pak Pof dan Bu Dyah. Saya cukup terkejut karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Pak Pof dan Bu Dyah tidak ada yang menyentuh substansi. Mereka justru berulang kali bertanya apakah saya benar-benar yakin ingin menjadi LS. Mungkin karena mereka melihat kualifikasi saya dan hasil tes tertulis saya – yang asumsi saya – sangat baik.

            “Mas Daru yakin ingin jadi Local Staff? Kenapa tidak daftar menjadi diplomat saja?” tanya Pak Pof.

            “Sudah Pak, saya sudah mencoba ikut tes CPNS Kemlu 2010 dan tidak lolos.”

            “Wah, sayang sekali ya… Ini beneran kamu mau daftar jadi Local Staff?” pertanyaan itu diulang lagi oleh Pak Pof. “Bisa-bisa kamu nanti kerjanya disuruh jadi sopir lho.”

            “Dengan senang hati Pak, saya senang nyetir”, jawab saya, karena memang saya suka sekali nyetir mobil.

            Melihat antusiasme dan keyakinan saya, saya kemudian dipersilakan keluar. Seusai tes, saya berkenalan dengan peserta tes lain, salah satunya bernama Anggi. Dia menceritakan ketika wawancara, dia ditanya mengenai wawasan nusantara, beberapa pertanyaan substansi, dan diminta menyanyikan lagu daerah atau lagu nasional. Berbeda dengan saya yang hanya ditanya apakah saya benar-benar yakin ingin menjadi LS.

            Setelah tes, saya sudah ada feeling dan memiliki keyakinan bahwa saya akan diterima sebagai LS, walau belum memiliki bayangan akan ditempatkan dimana. Sambil menunggu pengumuman, saya masih terus giat bekerja sebagai tutor di WSI.*** (Bersambung)

Arya Daru Pangayunan adalah Sekretaris Ketiga Fungsi Politik di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Dili (2018-2020); dan Sekretaris Ketiga Fungsi Ekonomi, Sosial, dan Budaya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Buenos Aires (2020-sekarang).

Perjalanan Diplomat Muda Indonesia Oleh: Arya Daru Pangayunan (Bag. 3)

Perjalanan Diplomat Muda Indonesia Oleh: Arya Daru Pangayunan (Bag. 1)

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Leave a Reply

Required fields are marked *

Related Posts

Gowork – Senayan City Lv. 15
Jl. Asia Afrika No. Lot. 19, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10270,
Indonesia

Email : redaksi@dutanusa.com

Informasi

Newsletter

© 2021 All rights reserved​

Made by DutaNusa Team