Trending News

Pertemuan di Roma, 15 Tahun Yang Memisahkan

Ketika saya bertugas di Roma, Italia, saya berkenalan dengan seorang anak muda dari Indonesia. Sebut saja namanya Herman (bukan nama yang sebenarnya). Herman kuliah di sebuah perguruan tinggi di Roma. Sebenarnya pada waktu itu, tidak banyak mahasiswa Indonesia yang belajar atau kuliah di Italia. Hal ini disebabkan antara lain dan utamanya karena faktor bahasa. Lembaga Pendidikan di Italia, mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, umumnya menggunakan bahasa setempat (bahasa Italia) Belum banyak perguruan tinggi di Italia yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di kampus.

Herman ternyata punya sisi pandang yang lain. Bagi Herman, kuliah di Italia memiliki keunggulan tersendiri yang berbeda dari kuliah di negara-negara lain, baik di Asia, Eropa maupun Amerika. Apalagi Italia dikenal sebagai negara yang sangat maju dan terkenal di bidang pariwisata, bidang studi yang ditekuni oleh Herman. Bahkan pernah tercatat selama bertahun-tahun, jumlah kunjungan wisatawan internasional ke Italia, melebihi jumlah penduduk Italia itu sendiri. Begitu kuatnya magnet Italia di bidang pariwisata.

Namun sebagai mahasiswa Indonesia yang “langka” di Italia, Herman memiliki teman-teman asal Indonesia yang sangat terbatas jumlahnya. Bahkan boleh dihitung dengan jari. Apalagi pada saat itu usia Herman masih muda belia. Sementara orang-orang Indonesia yang bermukim di Roma dan kota-kota lain di Italia umumnya berusia jauh lebih tua dari Herman dan mereka memiliki kesibukan dan kegiatan tersendiri dan padat. Tidak mudah bagi Herman untuk bisa berjalan-jalan, duduk ngopi di café atau restoran bersama-sama anak-anak muda Indonesia atau senior orang-orang Indonesia.

Apa yang saya lakukan? Meskipun jadwal saya padat dan sibuk bekerja di kantor saya yang memang terletak di kota Roma, diluar jam kerja saya senantiasa meluangkan waktu untuk hang-out bersama Herman. Kami berjalan-jalan di kota Roma, ngopi bersama, makan bersama dan tentu saja ngobrol bersama. Saya bisa merasakan perasaan Herman, betapa ia memerlukan teman usai kuliah atau melaksanakan tugas-tugas kampus. Apalagi Herman sendirian dan jauh dari keluarga. Waktu berlalu. Herman menyelesaikan pendidikan. Kami pun berpisah. Sayang komunikasi kami terputus sekitar 15 tahun lamanya. Maklumlah, sarana komunikasi pada waktu itu belum maju seperti sekarang.

Waktu 15 tahun berlalu, suatu ketika saya diundang oleh sebuah lembaga pendidikan tinggi terkemuka di Indonesia untuk menyampaikan kuliah umum dihadapan mahasiswa dan dosen. Memang saya sering dan bahkan rutin menyampaikan kuliah umum di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Namun kuliah umum kali ini, saya rasakan sungguh istimewa, sangat penting dan bersejarah. Saya sempat meneteskan airmata karena terbawa emosi. Ternyata, pimpinan lembaga pendidikan tinggi yang mengundang saya menyampaikan kuliah umum itu adalah Pak Herman. Herman yang 15 tahun lalu saya kenal dan sahabat dekat saya di Roma. *

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Leave a Reply

Required fields are marked *

Related Posts

Gowork – Senayan City Lv. 15
Jl. Asia Afrika No. Lot. 19, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10270,
Indonesia

Email : redaksi@dutanusa.com

Informasi

Newsletter

© 2021 All rights reserved​

Made by DutaNusa Team